
26th December – Boxing Day
This traditional day after Christmas is spent relaxing and being with family and friends with good food. Many establishments around the island will also be offering Boxing Day specials.
31st December – New Years Eve
This is a huge night on Bali, with crowds gathering in the popular spots, especially in Kuta along the beach, so please keep some traffic delays in mind. It is probably best to catch a cab. Everyone everywhere will be waiting for the midnight countdown into 2012, so wherever you choose to celebrate, it will be for sure, a night to remember. HAPPY NEW YEAR 2012.
Source: Baliplus.com
Lomba Foto “Moment Tak Terlupakan” Sanur Village Festival 2011 Yayasan Pembangunan Sanur (YPS) kembali menyelenggarakan Sanur Village Festival (SVF). Event ini adalah sebuah kegiatan yang diadakan setiap tahun, dengan tujuan memberikan kesempatan bagi komunitas masyarakat untuk menampilkan berbagai momen terbaik merek...a. Pada tahun 2011 ini, SVF secara resmi akan dilaksanakan tanggal 18-22 November 2011 di pantai Matahari Terbit, Sanur.
CRAZY CUL BLUES adalah kolaborasi kreatif antara chef Ketut Go gonk (Culinary) yang akan mendemontrasikan pusaka kuliner Bali dengan respons musik BLUES Putu Indrawan dan kawan-kawan. Jenis masakan yang pengolahannya akan didemonstrasikan adalah Gecok Nyawan dan Lempet Nyawan!ANZ Ubud Writers & Readers Festival (UWRF) opens with a festive Gala Opening celebration in the Royal Palace, October 5 2011. The event was officially opened by Sapta Nirwandar Director General of Marketing for the Ministry of Culture and Tourism.
In the four days ahead, ANZ UWRF will present an array of over 100 programs with 137 writers from 20 countries, including Indonesia. Acclaimed and emerging Indonesian writers will be sharing panels with international writers in various sessions that wraps around the Festival’s theme for the year: “Nandurin Karang Awak-Cultivate The Land Within”
“We integrate speakers from very diverse backgrounds in our programs. It’s a rare chance for people to see these writers sharing their thoughts and ideas in the same panel.” Says Festival Founding Director Janet DeNeefe.
In the Festival Press Conference, ANZ Vice President Director Ajay Mathur, stated that ANZ is honored to be part of UWRF, “UWRF does not only bring the world to Indonesia, but also brings Indonesia to the world,” says Ajay. UWRF was on the brink of cancellation when the main sponsor from last year pulled out at the last minute. ANZ offered their support just eight weeks before the announced opening date and saved the Festival
Meanwhile, Sapta Nirwandar stated that the government fully supports the Festival. “UWRF brings visitors to Indonesia. It also gives visitors a broad knowledge of Indonesia’s literary culture,” he says. “Ubud is the perfect place for this event. I believe many writers will find Ubud very inspiring. I also hope that after the Festival, the writers and participants will stay to explore Bali and other places in Indonesia.”
Andre Hirata, writer of popular tetralogy Laskar Pelangi said that UWRF has a gleaming reputation among writers and literarty lovers whom he meets in other international Festivals he’s attended. “In UWRF, I don’t only present my work to people. I also get a chance to grow as an author, and learn from other writers,” says Hirata.
Literary is not all you will find in the Festival’s menu. UWRF offers a wide range of music, art and cultural programs. But the cherry of the event is its Children & Youth Program which offers 24 free programs for kids and teens. With ExxonMobil’s support, 15 students from underpriviledged schools in East Java hasve arrived in Bali to enjoy these programs.
The post festival outreach program will take writers on tour to various cities in Indonesia. “This is one part of the Festival that not a lot of people are aware of,” says Janet. “It is one of our effort to spread the seed of inspiration beyond Bali and to other parts of Indonesia”
From Ubud Bali, we welcome you to the Festival and hope you have a very inspiring experience at ANZ Ubud Writers & Readers Festival 2011
Source: http://www.ubudwritersfestival.com/book/anz-ubud-writers-readers-festival-opening-bringing-world-indonesia-and-indonesia-world

Beruntung sekali, kali ini saya mendapat kesempatan untuk mengenal dan bergabung dengan keluarga besar Tukang Foto Keliling. Tidak hanya itu, saya juga berkesempatan untuk berbincang-bincang dengan Komandan Tukang Foto Keliling : ,“Nyoman Sujana”, yang akrab disapa “bli Man”,
Menurut penuturan Nyoman Sujana ; “Tukang Foto Keliling adalah komunitas terbuka bagi penyuka seni Fotografi, .TFK bukan hanya sekedar group hoby foto,TFK sudah seperti keluarga.Di keluarga TFK,sharing tentang foto benar-benar terbuka. Tidak ada sesuatu yang dirahasiakan, baik itu tehnik pengambilan foto, sampai cara pengeditan foto.”
Komunitas Fotografi yang tergolong unik ini bermarkas di Pulau Dewata Bali, TFK belum ada basecamp khusus,. Untuk sementara, kantor Nyoman Sujana yang terletak di “Baliwis spa-Nusa Dua” dijadikan sebagai tempat berkumpulnya para anggota TFK.
TFK terbentuk sekitar 7 bulan yang lalu. Berawal dari pertemuan7 orang dengan hoby yang sama, diantaranya : Nyoman Sujana,Yande Zetia,Dewa Enggung Susila,Dayu,Wayan Benny Saputra,Gede Sumanjaya,dan Merta Yasa,, .Dari pertemuan tersebut,Yande Zetia mengusulkan untuk membentuk komunitas fotografi yang bisa dijadikan wadah bagi penyuka seni fotografi,sekaligus sebagai sarana untuk belajar bersama,berbagi ilmu dan menambah wawasan dalam bidang fotografi. Akhirnya mereka sepakat untuk membentuk komunitas fotografi dengan nama “Tukang Foto Keliling (TFK)”.
Disepakatinya nama “Tukang Foto Keliling” sebagai nama komunitas, karena nama tersebut dirasa lebih sederhana, tidak mau egois menamakan diri Fotografi. Nyoman Sujana juga menambahkan ,”sebagian besar keluarga TFK adalah fotografer-fotografer pemula dengan keterbatasan alat. Hampir semua keluarga TFK menggunakan kamera dan lensa yang sederhana, namun keluarga TFK selalu berusaha untuk memberikan hasil yang terbaik, tidak kalah dengan yang menggunakan kamera mahal.”
Tidak hanya memotret model, TFK juga memotret kebudayaan , landscape,even-even,dll. Untuk saat ini, TFK memang lebih sering memotret dengan konsep model dan hunting lokasi.,. Model disini juga sudah menjadi bagian dari keluarga TFK, tidak ada istilah bayar-membayar untuk model. TFK juga sebagai wadah untuk proses belajar. Baik model ataupun fotografer bisa belajar untuk menambah wawasan dan konsep dalam foto. Tidak hanya sekedar memotret dan dipotret tanpa hasil yang tidak bermanfaat.
Sebagai orang yang dipercaya untuk menjadi komandan TFK, Nyoman Sujana berharap, ;untuk kedepannya TFK bisa terus menjadi wadah berbaginya ide dan pengalaman seputar fotografi yang bisa membuat keluarga besar TFK menjadi semakin maju,selalu berkarya dan berusaha mendapatkan hasil yang terbaik tanpa melanggar norma.
Sampai saat ini,Tukang Foto Keliling beranggotakan lebih dari 130 orang. Bagi yang ingin bergabung dengan keluarga TFK ,bisa join di http://www.facebook.com/groups/167956969911454/ ….
Good Luck TFK!! Salam jepret-jepret :D