
13 Mei 2012
@ Center Point Renon Denpasar


22ND APRIL - BII MAYBANK BALI MARATHON 2012
Organised by Bank International Indonesia - BII, the BII Maybank Bali Marathon (BMBM) 2012 is the first international full marathon held in Indonesia in over 20 years. The event will be held on Sunday, 22 April. The race will start and finish near to the Bali Safari and Marine Park featuring a combination of flat road and rolling hills.
The event will feature Bali's iconic landmarks and traditional dancing all along the course. The Marathon Relay promises to foster both teamwork and strategic planning among a team of five runners completing the Full Marathon in a relay format.
The race is also dedicated to promote
Source:Baliplus.com
Diawali acara workshop seni grafis dengan fokus cukil kayu (woodcut) Februari lalu, Bentara Budaya Bali kini menyelenggarakan sebuah pameran seni grafis bertemaKinship (Kekerabatan) yang menghadirkan para pekerja seni grafis Bali, baik yang bermukim di pulau ini, maupun di luar. Pameran tersebut diniatkan sebagai upaya untuk menumbuhkan atmosfer kreatif di seputar seni grafis yang kerap dipandang sebagai warga kelas dua di tengah perkembangan seni rupa Indonesia dewasa ini.
Pameran yang dikuratori oleh Hardiman (pengajar seni dan penulis seni rupa) diniatkan pula sebagai upaya mendorong pegrafis-pegrafis Bali untuk turut berpartisipasi dalam Trienal Grafis yang diselenggarakan Bentara Budaya. Sepanjang tiga kali penyelenggaraan Trinale Grafis, hanya satu seniman Bali saja yang tercatat sebagai finalis, hal mana mencerminkan bahwa seni grafis di pulau ini masih jauh dari perhatian publik seni. Sejumlah seniman akan turut dalam eksibisi tersebut, antara lain I Kadek Septa Adi, I Made Aryadwita (Dedok), Arief Budiman (Ayip Matamera), Edo Wulia, Megasari, I Made Artana, I Komang Sukertayasa, Sang Ayu Made WLP, Made Marthana Yusa, I Nyoman Anom Fajaraditya, Geugeut Pangestu S, Ahdiyat Nur Hartarta, I Gd Riski Soma Himawan, I Komang Wardita, I Wayan Wahyu Pratama, I Putu Aditya Diatmika, Andriyanto, Made Karisma Dwi Yosa, Wasudewa, I Putu Suhartawan, Made Dianan Putra, Wibowo, Rochman Kifrizyah, dan I Gede Panca Gautama.
Kinship (kekerabatan) adalah istilah sosiologi. Kinship bersifat universal dan dalam kebanyakan masyarakat memainkan peran penting dalam sosiologi individu-individu dan pemeliharaan solidaritas kelompok. Dalam masyarakat sederhana, hubungan kekerabatan dapat begitu luas dan penting sehingga berlaku sebagai sistem sosial. Dalam masyarakat yang lebih kompleks, biasanya kekerabatan merupakan bagian yang cukup kecil dari totalitas hubungan sosial yang membentuk sistem sosial.
Diandaikan sebuah sistem sosial, maka para pegrafis Bali hari-hari ini adalah sebuah masyarakat sederhana yang mempunyai hubungan kekerabatan sangat mendalam dengan sesama pegrafis. Hubungan ini mudah dipahami mengingat jumlah pegrafis di Bali sungguh sangat sedikit. Untuk alasan itulah pengandaian kinship ini sangat tepat dikenakan kepada para pegrafis Bali. Pengandaian lain juga, dalam masyarakat yang lebih kompleks, para pegrafis Bali adalah bagian yang cukup kecil dari totalitas yang membentuk sistem sosial seni rupa.
Untuk dua alasan inilah, tajuk pameran ini diberi nama “Kinship”. Tajuk pameran ini adalah sebuah bingkai besar dan longgar yang bisa menampung kecenderungan tema, teknik, dan gaya apapun dalam karya grafis. Tentu saja, ada alasan yang selayaknya dikemukakan di sini. Pertama, pameran ini diniatkan guna mendata dan mengidentifikasi segala kecenderungan tema, teknik, dan gaya seni grafis di Bali. Kedua, kelangkaan pegrafis di Bali adalah sebuah masyarakat kecil (sederhana) yang perlu secara menerus dihidupkan guna memeroleh posisi di tengah-tengah medan sosial seni rupa Bali.
Sekali lagi, pameran dengan tajuk “Kinship” ini adalah pameran seni grafis yang bisa menampung berbagai kecenderungan tema, teknik, dan gaya seni grafis. Sebuah bingkai yang sungguh-sungguh nyaris tanpa batas.[]
Hardiman
kurator
Gaya Art Space proudly presents Alex Valenzuela, on his solo exhibition PUTRI NAGA KOMODO Paintings and Drawings at Gaya Art Space. Alex Valenzuela was born in 1979 in Manhattan, New York. He studied illustration and graphic design at the Academy of Art College San Francisco. After his studies in 2002 he went traveling and working throughout the world and decided, as so many artists have before that his heart and inspiration resided in Bali. This collection is inspired by the people of Komodo National Park in Eastern Indonesia, and their oral traditions, which are represented in the book The Dragon Princess of Komodo & Other Folktales. Alex visited Komodo and immersed himself in the culture to ensure that he really caught the spirit of these peoples in an authentic way. Proceeds from sales of the book, a lavishly illustrated collection of six traditional tales, go to support grass roots community projects in the park. After returning to Bali he discovered not to simply enter the storytelling, cautionary tales, and fables, but also go into the realm of romantic dreams, animal magic, bewitching tribulations and untold wonder.
We rate Naughty Nuri’s Warung and Grill as one of the best restaurants we have dined at in Bali throughout our four days trip. Their ribs were outstanding – so tender and the meat falls right off the bone easily.
This unpretentious roadside shack is run by Indonesian Nuri Suryatmi and her affable New Yorker husband Brian Aldinger. Other than Bebek Bengil, it is also another eating establishment in Ubud. The patrons profile is a mixture of tourists and local.
The setting is really basic with some mismatched furnitures, paintings and photos of regulars with the owner Brian.Patrons can opt for open air seating next to the outdoor barbecue pit too.
Daily specials are written on the chalkboard. If you are lucky, they might offer babi guling on certain days.
Even Anthony Bourdain has been here. Don’t play play!
Drinks are certainly not cheap here. It is better to go for Bintang beer draft or martinis the next time you are here.
We needed some carbs to go with the ribs so wedges it is. Made upon order, the wedges arrived piping hot.
We also ordered some pork satays for the “variety” reason. Don’t bother and stick to the ribs.
Ribs, glorious ribs. Thanks to the blatant use of kecap manis (an Indonesian sweet soy sauce), the ribs were grilled until the sauce reduces to a sticky, caramelised coating. It felt like eating char siew off the bone, sans the fat some more. It was so addictive.
The after math – a clear evidence of the tender ribs with a nice pull off the bone. The best part? It costs only IDR 70,000 (RM 27) for a huge slab.
Naughty Nuri’s Warung
Jl. Raya Sanggingan (Across the road from Neka Museum)
Ubud, Bali
Phone: (361)977547
8am-10pm daily
http://www.naughty-nuris.com/
Minggu, 26 Februari 2012, Pukul 10.00 Wita-Selesai
Mengakhiri agenda bulan Februari, Bentara Budaya Bali menyelenggarakan workshop seni grafis. Materi yang akan diberikan dalam workshop itu adalah seni grafis cukil kayu (woodcut) dengan cetak manual di atas kertas dan di atas kanvas. Cukil kayu (woodcat) adalah media seni grafis tertua. Di Cina, teknik ini telah dikenal sedini abad kelima, belakangan berkembang pula di Jepang sebagai seni grafis cukil kayu khas negeri Sakura (ukiyo-e), yang hingga kini memperoleh tempat terhormat.
Di Indonesia, seni grafis, khususnya teknik cukil kayu, usianya belumlah terlalu tua, bermula sekitar tahun 1940-an, dirintis oleh Mochtar Apin, Bahroedin MS, dan Suromo. Namun demikian, jika dibandingkan dengan seni lukis misalnya, perkembangan seni grafis sungguh ketinggalan. Ada musabab yang menjadikan seni grafis hanya menjadi ‘warga kelas dua’ di tengah seni rupa dewasa ini: apresiasi terhadap seni grafis masih rendah; peran pendidikan seni, dinilai mencemaskan; dan jumlah seniman grafis memang tergolong masih sedikit.
Bentara Budaya menyadari kondisi memperihatinkan tersebut. Kesadaran itu disertai tindak nyata berupa penyelenggaraan trinale seni grafis Indonesia. Hasilnya, dari tahun ke tahun bukan hanya jumlah pesertanya yang bertambah, tetapi secara kualitas juga sungguh menjanjikan. Namun demikian, ironisnya, sepanjang tiga kali menyelenggaraan trinale, dari Bali hanya satu orang pegrafis saja yang tercatat sebagai finalis. Ini mencerminkan bahwa seni grafis di Bali terbilang masih jauh dari perhatian publik seni.
Workshop diberikan oleh Hardiman (pengajar seni grafis di Undiksha Singaraja, penulis seni rupa, dan kurator) dan I Kadek Septa Adi (pegrafis, finalis Trinale Seni Grafis Indonesia III, Bentara Budaya ). Acara ini diadakan serangkaian pameran seni grafis yang dijadwalkan berlangsung Maret mendatang di Bentara Budaya Bali, terbuka untuk semua seniman grafis Bali, yang berproses di dalam maupun di luar pulau ini.