Thursday, April 5, 2012

LOMBA PHOTOGRAPHY by Polytron

Wednesday, April 4, 2012

Photo Contest Beauty of Bali 2012

(AYO, PENDAFTARAN KAMI PERPANJANG SAMPAI TANGGAL 07 APRIL 2012)

Workshop & Photo Contest "Beauty of Bali"

Registration Fee ONLY Rp 55.000
Include : Workshop, Coffee Break, Lunch, and Certificate
Total Reward : Rp 3.000.000

Workshop Speakers :
1. Bpk. Agus Putu Pranayoga (Head of Bali Photograph Community)
2. Bpk. Wisnu (Light&Love Photography/ BPC Team)
3. Bpk. Yayak Putu Eka Satrya (Studio 8 Photography/ BPC Team)

Workshop Themes :
1. Modeling Photography Technique
Tips how to pose, lighting setup, model property, editing.
2. To be A Professional Photographer (CruiseLine)
Tour around the world and get money

PHOTO CONTEST would be held after workshop.

Photo Contest's Location : Art Centre Denpasar

Latest Registration :
Saturday, 07 April 2012
Building 1 Kampus STPBI-SPB
Jln Kecak No 12 Gatot Subroto Timur- DPS
Pkl. 10.00- 17.00WITA

or

Transfer the payment to our Bank Account (BCA) :
2900250021 a/n Cicilia Fransiska
and send a comfirmation by contacting Our Contact Person Below

More information, pls don't hesitate to contact us :
Baron : 081805513160
Adel : 081999041990
Marthin : 081805671865
Thio : 08174773301

Come and Join US!
We're going to seeing you soon,Brother&Sister!

Pameran Seni Grafis Bali “KINSHIP”


Diawali acara workshop seni grafis dengan fokus cukil kayu (woodcut) Februari lalu, Bentara Budaya Bali kini menyelenggarakan sebuah pameran seni grafis bertemaKinship (Kekerabatan) yang menghadirkan para pekerja seni grafis Bali, baik yang bermukim di pulau ini, maupun di luar. Pameran tersebut diniatkan sebagai upaya untuk menumbuhkan atmosfer kreatif di seputar seni grafis yang kerap dipandang sebagai warga kelas dua di tengah perkembangan seni rupa Indonesia dewasa ini.

Pameran yang dikuratori oleh Hardiman (pengajar seni dan penulis seni rupa) diniatkan pula sebagai upaya mendorong pegrafis-pegrafis Bali untuk turut berpartisipasi dalam Trienal Grafis yang diselenggarakan Bentara Budaya. Sepanjang tiga kali penyelenggaraan Trinale Grafis, hanya satu seniman Bali saja yang tercatat sebagai finalis, hal mana mencerminkan bahwa seni grafis di pulau ini masih jauh dari perhatian publik seni. Sejumlah seniman akan turut dalam eksibisi tersebut, antara lain I Kadek Septa Adi, I Made Aryadwita (Dedok), Arief Budiman (Ayip Matamera), Edo Wulia, Megasari, I Made Artana, I Komang Sukertayasa, Sang Ayu Made WLP, Made Marthana Yusa, I Nyoman Anom Fajaraditya, Geugeut Pangestu S, Ahdiyat Nur Hartarta, I Gd Riski Soma Himawan, I Komang Wardita, I Wayan Wahyu Pratama, I Putu Aditya Diatmika, Andriyanto, Made Karisma Dwi Yosa, Wasudewa, I Putu Suhartawan, Made Dianan Putra, Wibowo, Rochman Kifrizyah, dan I Gede Panca Gautama.

KINSHIP @ Bentara Budaya Bali

Kinship (kekerabatan) adalah istilah sosiologi. Kinship bersifat universal dan dalam kebanyakan masyarakat memainkan peran penting dalam sosiologi individu-individu dan pemeliharaan solidaritas kelompok. Dalam masyarakat sederhana, hubungan kekerabatan dapat begitu luas dan penting sehingga berlaku sebagai sistem sosial. Dalam masyarakat yang lebih kompleks, biasanya kekerabatan merupakan bagian yang cukup kecil dari totalitas hubungan sosial yang membentuk sistem sosial.

Diandaikan sebuah sistem sosial, maka para pegrafis Bali hari-hari ini adalah sebuah masyarakat sederhana yang mempunyai hubungan kekerabatan sangat mendalam dengan sesama pegrafis. Hubungan ini mudah dipahami mengingat jumlah pegrafis di Bali sungguh sangat sedikit. Untuk alasan itulah pengandaian kinship ini sangat tepat dikenakan kepada para pegrafis Bali. Pengandaian lain juga, dalam masyarakat yang lebih kompleks, para pegrafis Bali adalah bagian yang cukup kecil dari totalitas yang membentuk sistem sosial seni rupa.

Untuk dua alasan inilah, tajuk pameran ini diberi nama “Kinship”. Tajuk pameran ini adalah sebuah bingkai besar dan longgar yang bisa menampung kecenderungan tema, teknik, dan gaya apapun dalam karya grafis. Tentu saja, ada alasan yang selayaknya dikemukakan di sini. Pertama, pameran ini diniatkan guna mendata dan mengidentifikasi segala kecenderungan tema, teknik, dan gaya seni grafis di Bali. Kedua, kelangkaan pegrafis di Bali adalah sebuah masyarakat kecil (sederhana) yang perlu secara menerus dihidupkan guna memeroleh posisi di tengah-tengah medan sosial seni rupa Bali.

Sekali lagi, pameran dengan tajuk “Kinship” ini adalah pameran seni grafis yang bisa menampung berbagai kecenderungan tema, teknik, dan gaya seni grafis. Sebuah bingkai yang sungguh-sungguh nyaris tanpa batas.[]

Hardiman
kurator

Saturday, March 31, 2012

Putri Naga Komodo

Putri Naga Komodo
By Alex Valenzuela Gayafusion Artspace
Jl. Raya Sayan, Ubud PH+62 (0) 361 979252
Present until April 11th.

Gaya Art Space proudly presents Alex Valenzuela, on his solo exhibition PUTRI NAGA KOMODO Paintings and Drawings at Gaya Art Space. Alex Valenzuela was born in 1979 in Manhattan, New York. He studied illustration and graphic design at the Academy of Art College San Francisco. After his studies in 2002 he went traveling and working throughout the world and decided, as so many artists have before that his heart and inspiration resided in Bali. This collection is inspired by the people of Komodo National Park in Eastern Indonesia, and their oral traditions, which are represented in the book The Dragon Princess of Komodo & Other Folktales. Alex visited Komodo and immersed himself in the culture to ensure that he really caught the spirit of these peoples in an authentic way. Proceeds from sales of the book, a lavishly illustrated collection of six traditional tales, go to support grass roots community projects in the park. After returning to Bali he discovered not to simply enter the storytelling, cautionary tales, and fables, but also go into the realm of romantic dreams, animal magic, bewitching tribulations and untold wonder.

Naughty Nuri’s Warung & Grill @ Ubud, Bali


IMG_0233
We rate Naughty Nuri’s Warung and Grill as one of the best restaurants we have dined at in Bali throughout our four days trip. Their ribs were outstanding – so tender and the meat falls right off the bone easily.
IMG_0265
This unpretentious roadside shack is run by Indonesian Nuri Suryatmi and her affable New Yorker husband Brian Aldinger. Other than Bebek Bengil, it is also another eating establishment in Ubud. The patrons profile is a mixture of tourists and local.


nuri
The setting is really basic with some mismatched furnitures, paintings and photos of regulars with the owner Brian.Patrons can opt for open air seating next to the outdoor barbecue pit too.
IMG_0255
Daily specials are written on the chalkboard. If you are lucky, they might offer babi guling on certain days.
IMG_0254
Even Anthony Bourdain has been here. Don’t play play!
IMG_0239
Drinks are certainly not cheap here. It is better to go for Bintang beer draft or martinis the next time you are here.
IMG_0244
We needed some carbs to go with the ribs so wedges it is. Made upon order, the wedges arrived piping hot.
IMG_0228
We also ordered some pork satays for the “variety” reason. Don’t bother and stick to the ribs.
IMG_0220
Ribs, glorious ribs. Thanks to the blatant use of kecap manis (an Indonesian sweet soy sauce), the ribs were grilled until the sauce reduces to a sticky, caramelised coating. It felt like eating char siew off the bone, sans the fat some more. It was so addictive.
IMG_0247
The after math – a clear evidence of the tender ribs with a nice pull off the bone. The best part? It costs only IDR 70,000 (RM 27) for a huge slab.

Naughty Nuri’s Warung
Jl. Raya Sanggingan (Across the road from Neka Museum)
Ubud, Bali
Phone: (361)977547
8am-10pm daily

http://www.naughty-nuris.com/

Wahaha Pork Ribs


Wednesday, March 28, 2012

Workshop Seni Grafis Mencetak di Atas Kanvas

Minggu, 26 Februari 2012, Pukul 10.00 Wita-Selesai


Mengakhiri agenda bulan Februari, Bentara Budaya Bali menyelenggarakan workshop seni grafis. Materi yang akan diberikan dalam workshop itu adalah seni grafis cukil kayu (woodcut) dengan cetak manual di atas kertas dan di atas kanvas. Cukil kayu (woodcat) adalah media seni grafis tertua. Di Cina, teknik ini telah dikenal sedini abad kelima, belakangan berkembang pula di Jepang sebagai seni grafis cukil kayu khas negeri Sakura (ukiyo-e), yang hingga kini memperoleh tempat terhormat.

Di Indonesia, seni grafis, khususnya teknik cukil kayu, usianya belumlah terlalu tua, bermula sekitar tahun 1940-an, dirintis oleh Mochtar Apin, Bahroedin MS, dan Suromo. Namun demikian, jika dibandingkan dengan seni lukis misalnya, perkembangan seni grafis sungguh ketinggalan. Ada musabab yang menjadikan seni grafis hanya menjadi ‘warga kelas dua’ di tengah seni rupa dewasa ini: apresiasi terhadap seni grafis masih rendah; peran pendidikan seni, dinilai mencemaskan; dan jumlah seniman grafis memang tergolong masih sedikit.

Bentara Budaya menyadari kondisi memperihatinkan tersebut. Kesadaran itu disertai tindak nyata berupa penyelenggaraan trinale seni grafis Indonesia. Hasilnya, dari tahun ke tahun bukan hanya jumlah pesertanya yang bertambah, tetapi secara kualitas juga sungguh menjanjikan. Namun demikian, ironisnya, sepanjang tiga kali menyelenggaraan trinale, dari Bali hanya satu orang pegrafis saja yang tercatat sebagai finalis. Ini mencerminkan bahwa seni grafis di Bali terbilang masih jauh dari perhatian publik seni.

Workshop diberikan oleh Hardiman (pengajar seni grafis di Undiksha Singaraja, penulis seni rupa, dan kurator) dan I Kadek Septa Adi (pegrafis, finalis Trinale Seni Grafis Indonesia III, Bentara Budaya ). Acara ini diadakan serangkaian pameran seni grafis yang dijadwalkan berlangsung Maret mendatang di Bentara Budaya Bali, terbuka untuk semua seniman grafis Bali, yang berproses di dalam maupun di luar pulau ini.

Source: http://bentarabudayabali.wordpress.com/

Monday, March 26, 2012

KAFE BAHASA : FREE EVENT

http://www.cintabahasa.com/kafebahasa/

Friday, March 30, 7 - 9pm, FREE!
Bar Luna, Jl. Gootama
Performer: Cok Sawitri

Writer, Poet and Dancer Cokorda Sawitri, or better known as Cok Sawitri, is from the village of Sidemen, Karangasem in east Bali. Cok Sawitri has written a number of short stories, poems, articles and teaches traditional and modern Balinese dance. She is active in various women's and humanitarian organizations, as well as theatrical groups in Bali.

She collaborated with Dean Moss, New York, in 2006. Cok Sawitri’s works include: Meditasi Rahim (Meditation of the Womb) in 1991, Pembelaan Dirah (Dirah’s Defense) and Ni Garu poem in 1996, Permainan Gelap Terang (The Game of Light and Dark) in 1997, Sekuel Pembelaan Dirah (Dirah’s Defence sequel) in 1997, Hanya Angin Hanya Waktu (Only Wind Only Time) in 1998, Pembelaan Dirah (Dirah’s Defense) in the monologue festival in Bali, 1999, Puitika Melamar Tuhan (Puitika Asks The Hand of God) in 2001, Anjing Perempuanku (My Female Dog) in Denpasar, Singaraja, Karangasem 2003, Aku Bukan Perempuan Lagi (I’m not a Woman Anymore) 2004.

Local food, snacks, and drinks with local prices!!

==========================================

Welcome to Kafe Bahasa!

Bar Luna & Cinta Bahasa Indonesian Language School mempersembahkan:

Kumpul-Kumpul Budaya Campur dalam Bahasa Indonesia

Ayo, tunjukkan kepedulianmu terhadap bahasa & budaya Indonesia dengan datang dan berpartisipasi di Kafe Bahasa – Bar Luna, hari Jumat, dua kali sebulan! Akan ada pertunjukan musik, pemberian materi oleh pembicara asing/Indonesia, serta diskusi dengan komunitas lokal & ekspat. Dapatkan pengalaman lintas-budaya, lintas-bahasa & ekspresikan opinimu tentang topik hangat yang dibicarakan!

Tersedia cemilan dan makanan Indonesia dengan harga lokal!!

==========================================

An Evening of Presenters and Performers in the Indonesian Language

Whether you are fluent in Indonesian, or just starting to learn the national language, Kafe Bahasa is a great place to meet and mingle with the local community, learn about interesting things going on in Bali, hear some great presenters and performers, and improve your Indonesian by joining the conversation! Kafe Bahasa is twice-monthly, so sign up to receive an email about the next event. If you need interpretation, please ask your Indonesian-speaking friends to come with you!

==========================================

More info: http://www.cintabahasa.com/kafebahasa/

Next Event: Friday, April 13th

Boshe vvip Bali

What's up BOSHE!!
TONIGHT! @LOCALLY_SESSION
Boshe Vvip Club Bali proudly presents:
"ROAD TO WANTED 2012" FINAL - Area Denpasar
Feat: MOTION ANGEL,STEPBACK IN HORROR,AVENIR,FLAVA,VOICE,SINERGY.
Also Perform•BOSHE RESIDENT DJ's: DJ FARAO|FDJ VIENO D'CLEO|DJ IFIN•MC AG'4•VJ OQ
-FDC:30K-START 10PM
info:03613603980(OFFICE)|03618235508(KARAOKE)|081933023111(MOBILE)| Follow @Locally_Session & @BosheVVIPBali|pin:288A3382 (aga)

Tuesday, March 13, 2012

CALENDAR OF EVENTS - MARCH 2012

7TH MARCH – FULL MOON - PURNAMA KASANGA
The full moon (which has particular importance to the Balinese Hindus) falls on this day and ceremonies are held throughout the Hindu temples all across Bali. The Balinese that adhere to the Hindu Dharma religion will take offerings of food, fruit and flowers to the temple to be blesses by the priest. The Balinese themselves are then blessed by performing various rituals using holy water, incense smoke, petals and rice grains.


17TH MARCH – HARI TUMPEK KRULUT
Tumpek Krulut Day is dedicated to all musical instruments, masks and other instruments used in art performances and the numerous religious ceremonies in Bali. It is celebrated every 210 days, in the 17th week of the Balinese Pawukon cycle (a cycle consisting of 30 weeks). 

On this special day, offerings are given to pay homage to musical instruments, masks, and dance costumes. The instruments and other paraphernalia are cleaned, decorated with young coconut leaf offerings, given a special set of offerings and sprinkled with Holy water. The members of the group that use the instruments pray together and ask for blessings from the Gods.


20TH MARCH – HARI RAYA MELASTI
Melasti Ceremony is always held three days before Nyepi and is aimed at cleansing all of nature in the ocean, or at other water sources if need be. There may be traffic delays or jams, with some streets being closed off, as large groups of Balinese make their way to the beaches by foot from their respective temples. Please be patient and do not honk vehicle horns.


22ND MARCH – DARK MOON - TILEM KESANGA
The Balinese adhering to the Hindu Dharma religion will celebrate 'Tilem' in temple ceremonies, which are mostly held in every major temple and family shrines around the island of Bali. On this day Hindus make offerings to the Gods, placed on the ground at the entrance of each housing compound. The aim is to beg God's grace; so that one's dark thoughts will be illuminated by Him.


23RD MARCH – HARI-RAYA NYEPI – BALINESE NEW YEAR 1934
Nyepi is the Balinese New Year's Day according to the lunar calendar and is honored through a 'Day of Silence' of obligatory fasting, inactivity, prayer, and quiet throughout the island lasting for 24 hours. Purification offerings are made in every village on the day before to appease evil spirits, and a lively parade of 'Ogoh-Ogohs' (demon effigies) are carried throughout village streets to the sound of loud banging and lit torches to chase off the evil spirits. The noise can carry on throughout the night until morning, when silence reigns in the hope that if the spirits return to Bali, they will find it uninhabited. Restrictions are; no lighting fires, or lights after dark, no working, entertainment or pleasure, little noise from TVs and radios, and few signs of activity. No one is to go onto the streets (except the Pecelang), and the airport will also be closed. More info at www.balitourismboard.org


28TH MARCH – 1ST APRIL - THE 5TH ANNUAL BALISPIRIT FESTIVAL
Be a part of something that will change our world. The BaliSpirit Festival is a spiritually charged event that celebrates yoga, dance and music and the synergy of global cultural collaboration through the arts. The Fifth Festival will take place in Ubud from March 28th 2012. Early Bird Tickets are available now. Held over 5 transformational and fun-filled days, this annual celebration brings to Bali a wealth of talented and respected creative masters from around the world, merging the indigenous and rich cultures of Indonesia in the spirit of learning, collaboration and the celebration of creative and spiritual diversity.

Source: Baliplus.com

KAFE BAHASA : FREE EVENT


Welcome to Kafe Bahasa!

Bar Luna & Cinta Bahasa Indonesian Language School mempersembahkan:

Kumpul-Kumpul Budaya Campur dalam Bahasa Indonesia

Ayo, tunjukkan kepedulianmu terhadap bahasa & budaya Indonesia dengan datang dan berpartisipasi di Kafe Bahasa – Bar Luna, hari Jumat, dua kali sebulan! Akan ada pertunjukan musik, pemberian materi oleh pembicara asing/Indonesia, serta diskusi dengan komunitas lokal & ekspat. Dapatkan pengalaman lintas-budaya, lintas-bahasa & ekspresikan opinimu tentang topik hangat yang dibicarakan!

Tersedia cemilan dan makanan Indonesia dengan harga lokal!!

==========================================

Friday, March 16, 7 -9 pm, FREE
Bar Luna, Jl. Gootama
Performers: Tony Surya & Teman-Teman
MC: Wayan Jen

Tonys Surya is an Indonesian Language Teacher at Cinta Bahasa, and has taught Indonesian for many years in Australia and Indonesia. As a musician, songwriter and poet for the past 25 years, Tony loves language and the arts. Together with some friends, Tony will sing some Indonesian songs and traditional songs. In conversation with writer, Wayan Jen.

Tony will sing with his friends: a vocal group of Susan, Tanja, Mireille, a band of Ryna Sirait (singer), Mamu (bass), Susanto (violin), and Grup Pucuk.

Local food, snacks, and drinks with local prices!!

==========================================

An Evening of Presenters and Performers in the Indonesian Language

Whether you are fluent in Indonesian, or just starting to learn the national language, Kafe Bahasa is a great place to meet and mingle with the local community, learn about interesting things going on in Bali, hear some great presenters and performers, and improve your Indonesian by joining the conversation! Kafe Bahasa is twice-monthly, so sign up to receive an email about the next event. If you need interpretation, please ask your Indonesian-speaking friends to come with you!

==========================================

More info: http://www.cintabahasa.com/kafebahasa/

Next Event: Friday, March 30

Friday, March 9, 2012

Workshop Animasi Bali : Tantangan dan Peluang (DOK ke-24)

Diskusi dan Presentasi _Animasi Bali : Tantangan dan Peluang

Banyak penikmat film kartun Jepang yang tidak tahu bahwa gambar gambar bergerak itu digambar di Bali beberapa tahun belakangan. Lalu kenapa animator Bali tidak muncul ke permukaan untuk menunjukan karya mereka, tidak sekedar menggambar animasi pesanan dari Jepang?

Pertanyaan seperti tersebut, salah satunya menjadikan Dapur Olah Kreatif (DOK) menghadirkan Agung Sanjaya seorang animator senior animasi Bali pada:

Sabtu, 10 Maret 2012
Pukul 19.00 – selesai
Tempat
Warung Tresni
Jl Drupadi 54 Renon
Denpasar – Bali

Agung Sanjaya mengerjakan animasi Candy Candy, Dragon Ball dan Dora Emon termasuk versi movienya. Juga animasi dari kerajaan animasi Amerika Disney di studionya yang bernama Timeline di Denpasar.

Lalu apakah proses ini sudah cukup bagi seniman Bali yang dikenal kreatif, punya kebudayaan yang adiluhung dengan cerita cerita yang kuat. Apakah tidak ada cerita Bali yang bisa diangkat ke dunia animasi? Agung akan mempresentasikan karya karya animasinya juga.

Kemudian seperti apa upaya Agung Sanjaya agar animasi Bali bisa berkembang. Dan bagaimana caranya akan ada peluang bagi kreator Bali menjadi animator dan cerita Agung bahwa dia sedang “berkeliaran” mencari para calon animator baru di Bali dengan membuat workshop di sekolah sekolah?

Optimisme inilah yang akan dibagi oleh Agung Sanjaya di edisi DOK yang ke 24 ini pada para hadirin. DOK melakukan kegiatan reguler setiap hari Sabtu dengan menghadirkan berbagai nara sumber dari berbagai sektor kreatif, sastra, kuliner, musik, film, buku dan juga bincang manajemen (talkshow).

Untuk bisa hadir di DOK, tidak dikenakan tiket masuk dan acara ini terbuka untuk umum

Para hadirin diharapkan datang tepat waktu, sehingga semua agenda bisa terlaksana sesuai jadwal. Karena seperti biasa akan ada homeband dan jamz session.

Salam Kreatif
Ketua DOK Putu Indrawan.
Kurator Film Erick Est.

Sunday, February 26, 2012

CALENDAR OF EVENTS - FEBRUARY 2012

1st & 2nd February – Hari Raya Galungan & Umanis Galungan
Galungan is a Balinese holiday that occurs every 210 days and lasts for 10 days. Kuningan is the last day of the holiday (see below). Galungan means 'When the Dharma is winning' – Dharma being good over evil. During this holiday the Balinese Gods visit the earth and leave on Kuningan. During the Galungan period the deified ancestors of the family descend to their former homes to be entertained by those on earth.
Although Galungan falls on a Wednesday, most Balinese will begin their Galungan 'holiday' the day before – on the 5th. 'Penjors' can be seen lining the streets to welcome good fortune to those who pass below to enter family homes. On Wednesday the 6th, the day of Galungan, most Balinese will try to return to their own ancestral home at some stage during the day, even if they work on another part of the island. As well as the family temples, visits, with offerings, are also made to the main village temple, and to the homes of other families who may have helped the family in some way over the past six months. The day after Galungan, the 7th, is a time for relaxation; visiting friends and maybe taking the opportunity to head to the mountains or beaches for a picnic.


February 5th – Islamic Holiday - Maulid Nabi Muhammad
Today is a national holiday to celebrate the Islamic Prophet Muhammad's birthday therefore all banks, government offices and some commerce will be closed.


7th February – Full Moon - Purnama Kawolu
The full moon (which has particular importance to the Balinese Hindus) falls on this day and ceremonies are held throughout the Hindu temples all across Bali. The Balinese that adhere to the Hindu Dharma religion will take offerings of food, fruit and flowers to the temple to be blesses by the priest. It is the essence of theses offerings that will be enjoyed by the deities. The Balinese themselves are then blessed by performing various rituals using holy water, incense smoke, petals and rice grains.


11th February – Hari Raya Kuningan
This day is always celebrated 10 days after Galungan and on a Saturday marking the end of the festivities, sending deified ancestors back to the heavens. There will be many colourful temple ceremonies, with the Balinese suitably attired coming to and fro, according plenty of photo opportunities. Please be patient when on the roads.


14th February – Valentines Day
The international day of love… a day to be romantic or to propose if it's on the cards. Choose to share a beautiful meal at one of the many stunning, seductive venues on offer. This is a day to get close to those dearest and nearest. Alternatively, one of the many day spas listed in this edition offer pampered packages for two to get the intimate mood flowing.


21st February – Dark Moon - Tilem Kawolu
The Balinese adhering to the Hindu Dharma religion will celebrate 'Tilem' in temple ceremonies, which are mostly held in every major temple and family shrines around the island of Bali. On this day Hindus make offerings to the Gods, placed on the ground at the entrance of each housing compound. The aim is to beg God's grace; so that one's dark thoughts will be illuminated by Him.


29th February – Leap Year
Every four years is known as a leap year, with 29 days in February instead of the usual 28!.

Wednesday, February 22, 2012

Kafe Bahasa: FREE EVENT

http://www.cintabahasa.com/kafebahasa/

Welcome to Kafe Bahasa!

Bar Luna & Cinta Bahasa Indonesian Language School mempersembahkan:

Kumpul-Kumpul Budaya Campur dalam Bahasa Indonesia

Ayo, tunjukkan kepedulianmu terhadap bahasa & budaya Indonesia dengan datang dan berpartisipasi di Kafe Bahasa – Bar Luna, setiap Jumat, dua kali sebulan! Akan ada pertunjukan musik, pemberian materi oleh pembicara asing/Indonesia, serta diskusi dengan komunitas lokal & ekspat. Dapatkan pengalaman lintas-budaya, lintas-bahasa & ekspresikan opinimu tentang topik hangat yang dibicarakan!

==========================================


An Evening of Presenters and Performers in the Indonesian Language

Whether you are fluent in Indonesian, or just starting to learn the national language, Kafe Bahasa is a great place to meet and mingle with the local community, learn about interesting things going on in Bali, hear some great presenters and performers, and improve your Indonesian by joining the conversation! Kafe Bahasa is twice-monthly, so sign up to receive an email about the next event. If you need interpretation, please ask your Indonesian-speaking friends to come with you!

Grup Gedebong Goyang – G3
Next Event:

Friday, February 24, 2012
7-9pm
Bar Luna, Jl. Gootama

Presenter & Performer: Grup Gedebong Goyang

==========================================

Grup Gedebong Goyang (G3) terdiri dari empat penyanyi/penari yaitu: Rucina Ballinger, Alex Ryan, Antonella De Santis, dan Suzan Kohlik dan lima pemain band dari DA BIYU BAND yang dipimpin oleh Kadek Balon.

Gedebong dibentuk dengan tujuan untuk menghibur komunitas lokal dengan membawakan lagu-lagu pop Bali, dangdut, reggae dan Bali rock alternative serta lelucon yang mengandung kritik sosial ringan. Keempat wanita asing tersebut telah puluhan tahun tinggal di Bali, bersuamikan orang Indonesia dan sangat mencintai Indonesia pada umumnya dan Bali khususnya.

Kecintaan mereka pada Indonesia dan Bali dibuktikan dengan fasihnya bahasa Indonesia mereka, kepedulian mereka terhadap budaya-sosial, bahkan beberapa diantara mereka lancar berbahasa Bali!

Ayo tonton serunya penampilan Gedebong yang akan mengangkat tema budaya dan sosial dalam bahasa Indonesia di Kafe Bahasa, Bar Luna!

Semua bisa berbahasa Indonesia dan rata-rata bisa berbahasa Bali.

==========================================
Grup Gedebong Goyang (G3) is a group of four performers: Rucina Ballinger, Alex Ryan, Antolla De Santis and Suzan Kohlik, together with five musicians, Da Biyu Band led by Kadek Balon.

They entertain singing Balinese Pop, Dangdut, Reggae and Alternative Bali Rock to provide humor and touch on social issues at the same time. These four foreign women have lived in Bali for many years, are married to Indonesian husbands, and love Indonesia in general, and Bali in particular! They all speak Indonesian, and most of them speak Balinese as well.

==========================================

4 Wanita di Balik Grup Gedebong Goyang:


Alex Ryan jatuh cinta dengan Indonesia pada tahun 1993 saat mengelilingi Kalimantan sebagai aktivis hutan. Dari sana hubungannya dengan nusantara yang tidak pernah putus. Alex memiliki gelar S1 Bahasa Indonesia dan Sosiologi dan terakreditasi sebagai penerjemah dan juru bahasa Indonesia dengan NAATI. Bersama suami yang berasal Kalimantan, Alex tinggal di Indonesia sejak tahun 2003 bersama ketiga putranya yang cakap. Saat ini dia bekerja sebagai konsultan untuk isu sosial dan lingkungan, mengelola perusahaan bisnis kayu bekas bernama Kaltimber dan menjabat sebagai anggota tim penasehat di perkumpulan Bali Cantik Tanpa Plastik.

Suzan Kohlik sudah tinggal di Bali sejak tahun 1996. Pekerjaannya sebagai seniman keramik membuatnya tertarik dengan lingkungan Ubud yang terkenal sebagai pusat seni di Bali. Di sini, Suzan juga bisa melihat peluang untuk membuat studio keramiknya. Karya keramik yang kontemporer diajarkan di berbagai lokakarya. Pada tahun 1999 dia menikah dan saat ini, pernikahannya telah membuahkan seorang remaja cantik. Suzan juga membuka sebuah kafe bernama JUICE JA pada tahun 2000 di Ubud. Karya keramik Suzan yang paling laris adalah piring “gedebong” dimana irisan gedebong dipakai sebagai cetakan!

Antonella deSantis tinggal di Bali sejak tahun 1992. Dia jatuh cinta pada tarian dan kesenian Bali, yang membuatnya juga jatuh cinta dan menikahi seorang dalang bernama I Wayan Wija. Mereka berdua memiliki dua putri yang cantik2! Dia mempromosikan wayang kulit dengan membawa rombongan suaminya ke beberapa beberapa festival di Itali, Jerman, Austria, Australia, Jepang, dan Amerika. Dia juga pemilik restoran Itali di Ubud bernama Black Beach yang juga dikenal sebagai tempat pemutaran film-film dari mancanegara. Selain itu, Antonella juga membuka sebuah butik yang menjual baju dan perhiasan yang ia rancang sendiri.
P.S: sampai sekarang Antonella belum bisa mengucapkan kata "sangat" dengan baik!

Rucina Ballinger mulai mempelajari tari Bali sejak tahun 1973 dan kemudian memutuskan untuk tinggal di Bali pada tahun 1974. Pernikahannya dengan AA Gede Putra Rangki membuahkan dua anak laki-laki yang luar biasa ganteng! Dia bekerja sebagai konsultan di Yayasan Annika Linden, dan Ibu yang fasih berbahasa Indonesia dan Bali ini juga menulis tentang budaya Bali. Kesibukan lainnya adalah mengelola Dhyana Putri Adventures (program edukatif/budaya) dan menjadi wakil presiden di Rotary Club Ubud Sunset sejak tahun 2010. Bukunya BALINESE DANCE, DRAMA AND MUSIC: AN INTRODUCTION TO BALINESE PERFORMING ARTS ditulis bersama Wayan Dibia dan telah dipublikasikan pada tahun 2004.

TANDA HATI by Tony Raka

Tonyraka Art Gallery mengundang Teman-Teman untuk hadir di pembukaan pameran 4 perupa Bali ( I Wayan Sudarna Putra, I Ketut Suwidiarta, I Gusti Ngurah Buda, I Wayan Sandika) yang bertajuk TANDA HATI,

pada Jumat, 24 Februari 2012, pukul 18.30 wita di Tonyraka Art Gallery, Jl. Raya Mas 86, Mas, Ubud, Bali.

Pameran akan berlangsung hingga 16 Maret 2012.

Sampai jumpa!

_________________________________________________________

Membaca “Tanda Hati” Empat Perupa

Setiap perupa harus memiliki persoalan atau gagasan yang hendak dituang ke hamparan kanvas sehingga menjadi karya yang memiliki nilai dan maknanya sendiri. Persoalan atau gagasan itu bisa berasal dari diri si perupa sendiri atau dari interaksi perupa dengan lingkungan sosial atau pergaulan yang lebih luas. Perupa yang kreatif selalu berupaya menyerap setiap persoalan atau gagasan yang mengusik pikiran dan perasaanya, yang kemudian mengendap menjadi bahan renungan, dan menyublim ke dalam bentuk-bentuk karya yang diciptakannya.

Pada akhirnya, setiap karya seni akan menjadi “tanda hati”, suatu jejak atau tilas yang lahir dari ruang renungan perupa terhadap berbagai persoalan atau gagasan. Tak hanya perupa, setiap manusia sebagai sosok individu juga memiliki tanda hatinya sendiri, sebagai ungkapan ekspresi di dalam menjelajahi ruang-ruang sosial dan budaya. Tanda hati adalah ekspresi sekaligus juga eksistensi. Dalam tataran kualitas-kualitas tertentu, setiap manusia adalah seniman. Bahkan, Tuhan pun adalah Seniman Agung yang mengkreasi jagad raya beserta isinya. Jadi, jelaslah tanda hati lahir dari kesadaran jiwa “yang tercerahkan” oleh berbagai rupa persoalan atau pun gagasan.

Pameran ini menampilkan “tanda hati” dari empat perupa, yakni I Ketut Suwidiarta, I Wayan Sandika, I Wayan Sudarna Putra dan I Gusti Ngurah Putu Buda. Mereka adalah perupa yang cukup lama berkecimpung di ranah seni rupa, dengan karya-karya yang memiliki karakter tersendiri dan mengusung persoalan atau gagasan yang beragam. Selain kemampuan teknis, bukankah setiap perupa harus memiliki gagasan atau persoalan yang hendak dituang ke dalam bentuk karya? Suatu karya tanpa gagasan hanyalah omong kosong, sama halnya dengan wadah tanpa isi. Bahkan sebidang lukisan abstrak pun harus mengandung suatu gagasan.

Gagasan tentu lahir dari tingkat kepekaan dan kecerdasan si perupa dalam menyerap, menyikapi, mengritisi berbagai fenomena yang terjadi, baik di dalam dirinya maupun di luar dirinya. Persoalannya sekarang adalah di bawah bayang-bayang kecanggihan teknik, dunia seni rupa kita malah miskin gagasan. Ke depan, perlu lebih banyak lahir gagasan-gagasan bernas sehingga seni rupa kita bisa diperhitungkan di tingkat internasional.

Agar tidak ngelantur terlalu jauh, ijinkan saya menjadi penyambung lidah empat perupa ini untuk menyuarakan gagasan-gagasan yang semayam di benak mereka, serta mengulas satu dua karya mereka. Sebagai benang merah, pameran “Tanda Hati” ini didasari upaya-upaya mengungkap fenomena-fenomena ironis maupun satir yang terjadi di berbagai lini kehidupan. “Tanda Hati” merupakan kesaksian perupa atas berbagai persoalan atau peristiwa yang mengusik nuraninya.

Tanda hati serta gagasan karya-karya Suwidiarta bersumber dari persoalan globalisasi yang hingga kini banyak menimbulkan fenomena baru. Batas-batas negara seolah tak ada. Dalam fenomena internet, misalnya, dunia menjadi seukuran layar laptop, tablet, ponsel. Warga negara menjadi warga dunia. Perlahan rasa nasionalisme terkikis. Negara tak lagi menjadi soko guru kehidupan. Orang-orang mencari formulasi baru dengan mencomot berbagai budaya dan filosofi. Suwidiarta berupaya merangkum berbagai persoalan dari latar-latar budaya yang berbeda, terutama persoalan hilangnya rasa kebangsaan. Fenomena ini memunculkan ironi, satir, parodi yang bisa kita saksikan lewat karya-karya seni rupanya.

Misalnya, pada lukisan berjudul “Triumph of Death” dan “Lost”, Suwidiarta memainkan berbagai ikon dan simbol lintas budaya dengan nuansa parodi yang kental. Sosok Gajah Mada berbalut kostum jenderal terlentang disangga anak-anak panah layaknya adegan Bhisma Gugur dalam epos Mahabarata, dikerubungi dan diratapi oleh tokoh-tokoh dari berbagai ras dan negara. Karya-karya ini merepresentasikan makin samarnya batas-batas mitos, epos, etnis, ras, budaya, negara, rasa nasionalisme, di tengah arus deras globalisasi yang terus mengalir hingga detik ini.

I Wayan Sandika meramu gagasan-gagasan karyanya dari persoalan yang paling dekat dengan diri manusia, yakni keluarga. Sandika merenungi kembali hakikat hubungan orang tua dan anak. Dalam psikologi anak diibaratkan kertas putih yang siap diisi dengan aneka warna kehidupan. Anak dengan mudah menyerap dan meniru perkataan dan perbuatan orang tuanya. Jika orang tua sering berkata kasar, maka dapat dipastikan anak pun akan suka berkata kasar. Begitu pula jika anak dididik dengan kasih sayang, maka anak akan tumbuh sesuai didikan orang tuanya.

Di tengah kesibukan orang tua, anak-anak sering terabaikan. Bahkan, mereka bisa tumbuh liar dengan menyerap atau meniru hal-hal yang tak pantas. Lukisan berjudul “Massage” dengan ironis menampilkan balita (bayi di bawah lima tahun) yang asyik merokok sambil berendam di bak air. Sebelumnya, di situs youtube pernah muncul video balita yang merokok. Mungkin maksudnya untuk lucu-lucuan, namun video itu dikecam masyarakat dunia sebagai suatu bentuk eksploitasi dan mengajarkan hal yang tak pantas pada anak-anak. Sementara itu, lukisan ini jelas tujuannya bukan untuk lucu-lucuan, melainkan terkandung suatu pesan agar hati-hati mendidik anak.

Ironi-ironi hubungan orang tua dan anak juga muncul dalam lukisan-lukisan Sandika yang lain. Pada lukisan “Single Parent”, Sandika menampilkan sosok wanita seksi menenteng dua bungkusan, masing-masing berisi boneka dan balita. Yang menjadi fokus sekaligus pesan pada lukisan ini adalah cara wanita itu memperlakukan anaknya sungguh jauh dari sifat seorang ibu yang penuh kasih sayang. Seringkali kesibukan mengejar karir berdampak pada telantarnya anak-anak. Di lukisan ini tampak si balita diperlakukan sama dengan benda atau boneka yang mudah ditenteng. Seolah si balita bukanlah manusia yang perlu dicurahi kasih sayang.

Tak banyak yang mampu mengenali dirinya sendiri. Sebab mengenali diri sendiri dan mengakui diri seutuhnya memerlukan kesiapan mental. Manusia sering dikendalikan oleh pencitraan diri dan seringkali bereaksi terhadap penilaian dari lingkungannya. Pencitraan diri adalah topeng yang sengaja dipakai manusia untuk menutupi keburukan atau kekurangannya. Perlu kesiapan mental dan kesadaran diri untuk membuka topeng-topeng itu sehingga manusia mencapai keutuhannya, memiliki kelebihan sekaligus kekurangan. Hal-hal inilah yang menjadi gagasan dan perenungan karya-karya I Wayan Sudarna Putra.

Seri lukisan terbaru Sudarna yang bertajuk “Si Buruk Rupa” merupakan bagian dari proses pengenalan dirinya sendiri. Ada pertanyaan besar yang terus menerus menjadi bahan renungannya: siapakah aku ? Tak henti dia memburu jati dirinya sebagai manusia. Representasi wajah-wajah buruk yang digubah dari wajahnya sendiri merupakan bentuk pengakuan ketaksempurnaan diri, semacam autokritik. Wajah-wajah itu tertempel di kaca, pipih, tak berbentuk, bahkan tampak menjijikkan. Menyimak karya-karya ini, saya jadi berpikir: sesungguhnya manusia adalah mahkluk yang paling menjijikkan, yang selalu berupaya meraih kesempurnaan.

Lewat representasi abstraksi yang cenderung kelam, I Gusti Ngurah Putu Buda menyuguhkan gagasan dan persoalan yang berkaitan dengan diri sendiri (konflik batin), konflik sosial, krisis global, dan berbagai peristiwa kelam yang terjadi akhir-akhir ini, baik di tingkat lokal, nasional maupun internasional. Berbagai persoalan dan peristiwa di dalam dan luar diri bersenyawa membentuk cara pandang yang cenderung pesimis. Seolah semua menghadapi kuldesak (jalan buntu), dan seakan tak ada solusi yang berarti. Namun, kalau direnungi lebih seksama, segala persoalan dan peristiwa pada akhirnya menempa manusia untuk berupaya menemukan celah-celah harapan, yang membuat manusia masih betah bertahan mengarungi kehidupan.

Begitulah. Karya-karya Gusti Buda yang cenderung menggunakan warna-warna gelap merupakan cerminan persoalan yang terjadi di dalam dirinya dan persoalan sosial yang lebih luas. Misalnya, lukisan “Dark Neast” bertolak dari fenomena sosial yang bagaikan ranah kelam dan manusia berada dalam situasi tak menentu, gelap tanpa harapan. Namun, melalui lukisan “Toward Light”, Gusti Buda menyampaikan pesan bahwa dalam setiap kegelapan, cahaya sekecil apa pun bisa dimaknai sebagai harapan.

Empat perupa telah menyuguhkan tanda hatinya. Yakni, karya-karya yang mewakili cerminan hati nurani masing-masing perupa ketika merespon berbagai persoalan, baik yang bersumber dari dalam diri maupun luar diri. Selanjutnya, terserah apresian memaknai kembali masing-masing tanda hati itu. Semoga berguna.

Oleh :
Wayan ‘Jengki’ Sunarta
Lulusan Antropologi Budaya, Fakultas Sastra, Universitas Udayana. Pernah kuliah seni lukis di ISI Denpasar.

Denpasar dalam Puisi

Denpasar dalam Puisi

Berkaitan dengan HUT Kota Denpasar, Dapur Olah Kreatif (DOK) Denpasar akan menggelar Malam Apresiasi Puisi dan Diskusi, pada Sabtu, 25 Februari 2012, Jam 19.00 wita, di Warung Tresni, Jl. Drupadi No. 54, Renon, Denpasar.

Acara akan diisi dengan pembacaan puisi bertema Denpasar oleh Tan Lioe Ie, Warih Wisatsana, Didon Kajeng, Ni Made Purnamasari, Pranita Dewi, Mira Astra. Selanjutnya akan digelar diskusi bertajuk “Denpasar dalam Puisi”, dengan pembicara Tan Lioe Ie, dipandu Wayan Sunarta. Acara gratis dan terbuka untuk umum. Silakan datang….

Tuesday, January 10, 2012

Body and Soul Clothing International Great Annual Nationwide Sale up to 70% off All items


Body and Soul Clothing International Great Annual Nationwide Sale up to 70% off All items.
start from 13 January until 29 January 2012
@ Mal Bali Galeria

Short StoryCompetition 2012 by HMJ Sastra Inggris STIBA Saraswati Denpasar

Thursday, January 5, 2012

Wednesday, January 4, 2012

ART INFINITUM at Tony Raka Gallery, Ubud - Bali

Tonyraka Art Gallery proudly present an art exhibition entitled ART INFINITUM as our first exhibition in 2012. This exhibition is a collaboration between Jan Tyniec, Joel Singer, Linda Connor, Lonnie Graham, Made Wianta and Vladik Monroe. The exhibition will be open on Friday, 13 January 2012 at 6.30 pm at Tonyraka Art Gallery in Jl. Raya Mas 86, Mas, Ubud, Bali. The exhibition will continue until 3 February 2012. See you and please enjoy the show.

Indeed, the most enduring triumph of photography has been its aptitude for discovering beauty in the humble, the inane, the decrepit. At the very least, the real has a pathos. And that pathos is beauty.

-Susan Sontag, On Photography

PHOTOGRAPHY: ART INFINITUM

At the time the daguerreotype was invented in the 1800s, painting was the primary art form. In an era that is often referred to as pictorialism, photographers began to make their photographs look like paintings. In their efforts to bring photography closer to painting, photographers combined technological innovation with creativity through various messy experiments in order to achieve soft focus and painterly effects, such as hazy light.
In 1888, George Eastman introduced the first Kodak camera that contained film-roll with the famous slogan, “You press the button, we do the rest”. Since then, photography has never lost its popularity. It seemed that the first easy-to-use camera had allowed everyone to take pictures easily. Technical advances had made taking photographs ever simpler and enabled general public to participate in the business. Photography became popular industry. But along with the “industrialization" of photography, there was growing concern about qualitative decline of photography. It was perceived that the popularity of photography had undermined the aesthetic standards of photography, because photography was increasingly seen as a mechanical activity that required no skill. As the editors of American Amateur Photographer (July 1889) observe, “Photography has been degraded to the level of an amusement.”
Many photographers feared that photography was too mechanical and drifted further and further away from the realm of art, especially from painting. This fear had contributed to the development of photography as a recognized art form on a par with other art forms, such as painting and sculpture. In an effort to make people realize that photography was an art form in its own right, and that photographers were artists and not simply people shooting snapshots, the famous American photographer, Alfred Stieglitz, in the early 1900s founded the Photo-Secession as well as the magazine, Camera Work, to promote pictorialism. Stieglitz believed that “photographic equipment: the lens, the plates and so on constitute a flexible instrument and not a mere mechanical tyrant” (W. Kemp 1980). The Photo-Secessionist photographers often manipulated photographic process, especially by employing a wide variety of printmaking tricks, to achieve painterly effects in their photographs.
Then Paul Strand promoted “straight photography”, as exemplified in the photographs he made around 1916 without using any tricks of photographic manipulation. Against pictorialism or artistic photography, Strand believed that photography should find its “absolute unqualified objectivity” by investigating photography’s own inherent characteristics. He had successfully combined the concept of painterly abstraction with the idea of straight, sharp focus, photography. In this type of photography, artistic quality was achieved by emphasizing methods of creating the image in the camera at the moment of exposure.
Since the 1960s, thanks to the efforts the Museum of Modern Art (MoMA) in New York, especially its Director of Photography, John Szarkowski, photography has obtained the status of high art or fine art. Photography has become recognized as singular, authentic, work of art on a par with painting, sculpture and other art forms. This prestigious fine art status was based on photography’s claims to Benjaminian “aura”: photography as auratic image. According to Walter Benjamin, “aura” comprised those qualities of singularity and uniqueness which produced the authoritative presence of the original work of art. In this sense, “art photography” refers to photographs endowed with technical virtuosity and artistic originality, understood as the unique expression of individual author-photographer.
In the 1970s, photography contributed to the redefinition of “art” when it began to become one of significant “weapons” for postmodernist artists in the West in their struggle against the notions of modernist art. As Abigail Solomon-Godeau observes, “Virtually every critical and theoretical issue with which postmodernist art may be said to engage in one sense or another can be located within photography” (B. Wallis 1984). Postmodernist artists like Sherrie Levine, Cindy Sherman and Victor Burgin used the photographic medium to expose photography’s ambivalence: Photography is in no way transparent, not at all clear of cultural formation, yet it is technically tied with the real. Postmodern photography defines the photographer as more the manipulator of signs than the producer of an art object, and the viewers as more the active reader of signs than the passive consumer of aesthetic beauty.
In the 1980s, photography found a place in video installations, a new media that transformed “art”. The arrival of digital photography transformed “art” even further. Along with other new media and the Internet, the use of image manipulation with digital devices has reinvented photography and redefined the art of photography. As technology advances, photography and videography are becoming one, and the melding of the two different media will determine the future of photography.
Linda Hutcheon (1989) see paradox at the heart of the photographic medium: photography is controlled by the subjectivity of the photographer's eye on the one hand, and by the objectivity of the camera’s technology, its seemingly transparent realism of recording, on the other hand. According to Hutcheon, these two poles are difficult to reconcile. Nevertheless, she sees the trend toward a suspicion of the scientific neutrality of photographic recording technology. As D. Davis (1977) observes, “Photograph has ceased to be a window on the world, through which we see things as they are. It is rather a highly selective filter, placed there by a specific hand and mind.”
Featuring the works of six artists working with photography, the current exhibition, Art Infinitum, take the position that it is precisely because of its paradox, because of the abyss between the subjectivity of the photographer's eye and the objectivity of the camera’s technology, photography has something of infinity as an art that continually redefine itself as well as the ways in which we are seen and see ourselves and the world. With the exception of one Indonesian artist (Made Wianta), this exhibition involves Western artists (Jan Tyniec, Linda Connor, Lonnie Graham, Joel Singer, Vladik Monroe) who are certainly more familiar with the history and the discourse of photography, a medium that was invented and has reached its maturity in the West. Given the fact that the exhibition takes place in Indonesia, where the history and the discourse of photography is less known by the art lovers, even by artists and photographers, it is important to put a brief account of the history and the discourse of photography in the background of the exhibition. Art Infinitum presents photography as an infinite included into a finite: an art form that continually evolving through the time. Photography as an art infinitum.

* writing by Arif Bagus Prasetya ( Arif Bagus Prasetyo is a curator, alumnus of the IWP University of Iowa, USA.)

Monday, December 19, 2011

ART, SHIT, PARASITE by Made Budhiana at Bentara Budaya Bali



ART, SHIT, PARASITE by Made Budhiana at Bentara Budaya Bali
Selasa, 20 Desember 2011
Pukul 18.30

Click image for the larger size of the invitation
FREE ENTRY

Wednesday, December 14, 2011

CALENDAR OF EVENTS - DECEMBER 2011

3rd December - Tumpek Landep
This day is devoted to the Agama Hindu God "Sanghyang Pasupati" when blessing ceremonies are conducted over heirlooms, sacred weapons and all instruments and tools made of metal (even cars & motorbikes), to bestow good energy for both day to day functioning as well as believed magical powers. This ceremony is held throughout Bali, especially at smiths, garages and works shops.


10th December 3pm – Teddy Bear Tea with Santa at Padi Restaurant
Each child will receive High Tea served in a customized set of tea-cups, an AYANA Resort & Spa teddy bear and cookies, and paint their own hand-made Jenggala Ceramics Christmas ornament. There will also be Christmas story telling. Rp110,000++/child including access to the children's pool and waterslides; Rp150,000++/adult. www.ayanaresort.com


10th December – Full Moon - Purnama Sasih Kenam
The full moon (which has particular importance to the Balinese Hindus) falls on this day and ceremonies are held throughout the Hindu temples all across Bali. The Balinese that adhere to the Hindu Dharma religion will take offerings of food, fruit and flowers to the temple to be blesses by the priest. It is the essence of theses offerings that will be enjoyed by the deities. The Balinese themselves are then blessed by performing various rituals using holy water, incense smoke, petals and rice grains.


18th December 9-11am – Breakfast with Santa
Indulge in a festive buffet with the classic favorites and live cooking stations. Children will be invited to take part in Christmas cookie decoration and pool games.
Rp100,000++/child including access to the children's pool and waterslides; Rp200,000++/adult. www.ayanaresort.com


24th December – Dark Moon - Tilem Sasih Kanem
The Balinese adhering to the Hindu Dharma religion will celebrate 'Tilem' in temple ceremonies, which are mostly held in every major temple and family shrines around the island of Bali. On this day Hindus make offerings to the Gods, placed on the ground at the entrance of each housing compound. The aim is to beg God's grace; so that one's dark thoughts are illuminated by Him.


24th December – Christmas Eve
This is a fun night to be had, either intimately over a family Christmas dinner at many of the hotels, restaurants, resorts and private villas all ready to serve up traditional turkey or a Balinese 'bebek' (duck). Or kick your heels up with your friends for a wild night of dancing and parties at all the bars and clubs along the southern coast. Bali is a wonderful choice to welcome in Christmas in the tropics.


25th December – Christmas Day
This is a national holiday and is celebrated across the island in all hotels, restaurants, bars and clubs with special festivities programs. All banks and government offices will be closed.

26th December – Boxing Day
This traditional day after Christmas is spent relaxing and being with family and friends with good food. Many establishments around the island will also be offering Boxing Day specials.

31st December – New Years Eve
This is a huge night on Bali, with crowds gathering in the popular spots, especially in Kuta along the beach, so please keep some traffic delays in mind. It is probably best to catch a cab. Everyone everywhere will be waiting for the midnight countdown into 2012, so wherever you choose to celebrate, it will be for sure, a night to remember. HAPPY NEW YEAR 2012.

Source: Baliplus.com

BOSHE Special Events, December 2011


.

.