7TH MARCH – FULL MOON - PURNAMA KASANGA
The full moon (which has particular importance to the Balinese Hindus) falls on this day and ceremonies are held throughout the Hindu temples all across Bali. The Balinese that adhere to the Hindu Dharma religion will take offerings of food, fruit and flowers to the temple to be blesses by the priest. The Balinese themselves are then blessed by performing various rituals using holy water, incense smoke, petals and rice grains.
17TH MARCH – HARI TUMPEK KRULUT
Tumpek Krulut Day is dedicated to all musical instruments, masks and other instruments used in art performances and the numerous religious ceremonies in Bali. It is celebrated every 210 days, in the 17th week of the Balinese Pawukon cycle (a cycle consisting of 30 weeks).
On this special day, offerings are given to pay homage to musical instruments, masks, and dance costumes. The instruments and other paraphernalia are cleaned, decorated with young coconut leaf offerings, given a special set of offerings and sprinkled with Holy water. The members of the group that use the instruments pray together and ask for blessings from the Gods.
20TH MARCH – HARI RAYA MELASTI
Melasti Ceremony is always held three days before Nyepi and is aimed at cleansing all of nature in the ocean, or at other water sources if need be. There may be traffic delays or jams, with some streets being closed off, as large groups of Balinese make their way to the beaches by foot from their respective temples. Please be patient and do not honk vehicle horns.
22ND MARCH – DARK MOON - TILEM KESANGA
The Balinese adhering to the Hindu Dharma religion will celebrate 'Tilem' in temple ceremonies, which are mostly held in every major temple and family shrines around the island of Bali. On this day Hindus make offerings to the Gods, placed on the ground at the entrance of each housing compound. The aim is to beg God's grace; so that one's dark thoughts will be illuminated by Him.
23RD MARCH – HARI-RAYA NYEPI – BALINESE NEW YEAR 1934
Nyepi is the Balinese New Year's Day according to the lunar calendar and is honored through a 'Day of Silence' of obligatory fasting, inactivity, prayer, and quiet throughout the island lasting for 24 hours. Purification offerings are made in every village on the day before to appease evil spirits, and a lively parade of 'Ogoh-Ogohs' (demon effigies) are carried throughout village streets to the sound of loud banging and lit torches to chase off the evil spirits. The noise can carry on throughout the night until morning, when silence reigns in the hope that if the spirits return to Bali, they will find it uninhabited. Restrictions are; no lighting fires, or lights after dark, no working, entertainment or pleasure, little noise from TVs and radios, and few signs of activity. No one is to go onto the streets (except the Pecelang), and the airport will also be closed. More info at www.balitourismboard.org
28TH MARCH – 1ST APRIL - THE 5TH ANNUAL BALISPIRIT FESTIVAL
Be a part of something that will change our world. The BaliSpirit Festival is a spiritually charged event that celebrates yoga, dance and music and the synergy of global cultural collaboration through the arts. The Fifth Festival will take place in Ubud from March 28th 2012. Early Bird Tickets are available now. Held over 5 transformational and fun-filled days, this annual celebration brings to Bali a wealth of talented and respected creative masters from around the world, merging the indigenous and rich cultures of Indonesia in the spirit of learning, collaboration and the celebration of creative and spiritual diversity.
Source: Baliplus.com
Tuesday, March 13, 2012
KAFE BAHASA : FREE EVENT
Welcome to Kafe Bahasa!
Bar Luna & Cinta Bahasa Indonesian Language School mempersembahkan:
Kumpul-Kumpul Budaya Campur dalam Bahasa Indonesia
Ayo, tunjukkan kepedulianmu terhadap bahasa & budaya Indonesia dengan datang dan berpartisipasi di Kafe Bahasa – Bar Luna, hari Jumat, dua kali sebulan! Akan ada pertunjukan musik, pemberian materi oleh pembicara asing/Indonesia, serta diskusi dengan komunitas lokal & ekspat. Dapatkan pengalaman lintas-budaya, lintas-bahasa & ekspresikan opinimu tentang topik hangat yang dibicarakan!
Tersedia cemilan dan makanan Indonesia dengan harga lokal!!
==========================
Friday, March 16, 7 -9 pm, FREE
Bar Luna, Jl. Gootama
Performers: Tony Surya & Teman-Teman
MC: Wayan Jen
Tonys Surya is an Indonesian Language Teacher at Cinta Bahasa, and has taught Indonesian for many years in Australia and Indonesia. As a musician, songwriter and poet for the past 25 years, Tony loves language and the arts. Together with some friends, Tony will sing some Indonesian songs and traditional songs. In conversation with writer, Wayan Jen.
Tony will sing with his friends: a vocal group of Susan, Tanja, Mireille, a band of Ryna Sirait (singer), Mamu (bass), Susanto (violin), and Grup Pucuk.
Local food, snacks, and drinks with local prices!!
==========================
An Evening of Presenters and Performers in the Indonesian Language
Whether you are fluent in Indonesian, or just starting to learn the national language, Kafe Bahasa is a great place to meet and mingle with the local community, learn about interesting things going on in Bali, hear some great presenters and performers, and improve your Indonesian by joining the conversation! Kafe Bahasa is twice-monthly, so sign up to receive an email about the next event. If you need interpretation, please ask your Indonesian-speaking friends to come with you!
==========================
More info: http://
Next Event: Friday, March 30
Friday, March 9, 2012
Workshop Animasi Bali : Tantangan dan Peluang (DOK ke-24)
Diskusi dan Presentasi _Animasi Bali : Tantangan dan Peluang
Banyak penikmat film kartun Jepang yang tidak tahu bahwa gambar gambar bergerak itu digambar di Bali beberapa tahun belakangan. Lalu kenapa animator Bali tidak muncul ke permukaan untuk menunjukan karya mereka, tidak sekedar menggambar animasi pesanan dari Jepang?
Pertanyaan seperti tersebut, salah satunya menjadikan Dapur Olah Kreatif (DOK) menghadirkan Agung Sanjaya seorang animator senior animasi Bali pada:
Sabtu, 10 Maret 2012
Pukul 19.00 – selesai
Tempat
Warung Tresni
Jl Drupadi 54 Renon
Denpasar – Bali
Agung Sanjaya mengerjakan animasi Candy Candy, Dragon Ball dan Dora Emon termasuk versi movienya. Juga animasi dari kerajaan animasi Amerika Disney di studionya yang bernama Timeline di Denpasar.
Lalu apakah proses ini sudah cukup bagi seniman Bali yang dikenal kreatif, punya kebudayaan yang adiluhung dengan cerita cerita yang kuat. Apakah tidak ada cerita Bali yang bisa diangkat ke dunia animasi? Agung akan mempresentasikan karya karya animasinya juga.
Kemudian seperti apa upaya Agung Sanjaya agar animasi Bali bisa berkembang. Dan bagaimana caranya akan ada peluang bagi kreator Bali menjadi animator dan cerita Agung bahwa dia sedang “berkeliaran” mencari para calon animator baru di Bali dengan membuat workshop di sekolah sekolah?
Optimisme inilah yang akan dibagi oleh Agung Sanjaya di edisi DOK yang ke 24 ini pada para hadirin. DOK melakukan kegiatan reguler setiap hari Sabtu dengan menghadirkan berbagai nara sumber dari berbagai sektor kreatif, sastra, kuliner, musik, film, buku dan juga bincang manajemen (talkshow).
Untuk bisa hadir di DOK, tidak dikenakan tiket masuk dan acara ini terbuka untuk umum
Para hadirin diharapkan datang tepat waktu, sehingga semua agenda bisa terlaksana sesuai jadwal. Karena seperti biasa akan ada homeband dan jamz session.
Salam Kreatif
Ketua DOK Putu Indrawan.
Kurator Film Erick Est.
Banyak penikmat film kartun Jepang yang tidak tahu bahwa gambar gambar bergerak itu digambar di Bali beberapa tahun belakangan. Lalu kenapa animator Bali tidak muncul ke permukaan untuk menunjukan karya mereka, tidak sekedar menggambar animasi pesanan dari Jepang?
Pertanyaan seperti tersebut, salah satunya menjadikan Dapur Olah Kreatif (DOK) menghadirkan Agung Sanjaya seorang animator senior animasi Bali pada:
Sabtu, 10 Maret 2012
Pukul 19.00 – selesai
Tempat
Warung Tresni
Jl Drupadi 54 Renon
Denpasar – Bali
Agung Sanjaya mengerjakan animasi Candy Candy, Dragon Ball dan Dora Emon termasuk versi movienya. Juga animasi dari kerajaan animasi Amerika Disney di studionya yang bernama Timeline di Denpasar.
Lalu apakah proses ini sudah cukup bagi seniman Bali yang dikenal kreatif, punya kebudayaan yang adiluhung dengan cerita cerita yang kuat. Apakah tidak ada cerita Bali yang bisa diangkat ke dunia animasi? Agung akan mempresentasikan karya karya animasinya juga.
Kemudian seperti apa upaya Agung Sanjaya agar animasi Bali bisa berkembang. Dan bagaimana caranya akan ada peluang bagi kreator Bali menjadi animator dan cerita Agung bahwa dia sedang “berkeliaran” mencari para calon animator baru di Bali dengan membuat workshop di sekolah sekolah?
Optimisme inilah yang akan dibagi oleh Agung Sanjaya di edisi DOK yang ke 24 ini pada para hadirin. DOK melakukan kegiatan reguler setiap hari Sabtu dengan menghadirkan berbagai nara sumber dari berbagai sektor kreatif, sastra, kuliner, musik, film, buku dan juga bincang manajemen (talkshow).
Untuk bisa hadir di DOK, tidak dikenakan tiket masuk dan acara ini terbuka untuk umum
Para hadirin diharapkan datang tepat waktu, sehingga semua agenda bisa terlaksana sesuai jadwal. Karena seperti biasa akan ada homeband dan jamz session.
Salam Kreatif
Ketua DOK Putu Indrawan.
Kurator Film Erick Est.
Sunday, February 26, 2012
CALENDAR OF EVENTS - FEBRUARY 2012
1st & 2nd February – Hari Raya Galungan & Umanis Galungan
Galungan is a Balinese holiday that occurs every 210 days and lasts for 10 days. Kuningan is the last day of the holiday (see below). Galungan means 'When the Dharma is winning' – Dharma being good over evil. During this holiday the Balinese Gods visit the earth and leave on Kuningan. During the Galungan period the deified ancestors of the family descend to their former homes to be entertained by those on earth.
Although Galungan falls on a Wednesday, most Balinese will begin their Galungan 'holiday' the day before – on the 5th. 'Penjors' can be seen lining the streets to welcome good fortune to those who pass below to enter family homes. On Wednesday the 6th, the day of Galungan, most Balinese will try to return to their own ancestral home at some stage during the day, even if they work on another part of the island. As well as the family temples, visits, with offerings, are also made to the main village temple, and to the homes of other families who may have helped the family in some way over the past six months. The day after Galungan, the 7th, is a time for relaxation; visiting friends and maybe taking the opportunity to head to the mountains or beaches for a picnic.
February 5th – Islamic Holiday - Maulid Nabi Muhammad
Today is a national holiday to celebrate the Islamic Prophet Muhammad's birthday therefore all banks, government offices and some commerce will be closed.
7th February – Full Moon - Purnama Kawolu
The full moon (which has particular importance to the Balinese Hindus) falls on this day and ceremonies are held throughout the Hindu temples all across Bali. The Balinese that adhere to the Hindu Dharma religion will take offerings of food, fruit and flowers to the temple to be blesses by the priest. It is the essence of theses offerings that will be enjoyed by the deities. The Balinese themselves are then blessed by performing various rituals using holy water, incense smoke, petals and rice grains.
11th February – Hari Raya Kuningan
This day is always celebrated 10 days after Galungan and on a Saturday marking the end of the festivities, sending deified ancestors back to the heavens. There will be many colourful temple ceremonies, with the Balinese suitably attired coming to and fro, according plenty of photo opportunities. Please be patient when on the roads.
14th February – Valentines Day
The international day of love… a day to be romantic or to propose if it's on the cards. Choose to share a beautiful meal at one of the many stunning, seductive venues on offer. This is a day to get close to those dearest and nearest. Alternatively, one of the many day spas listed in this edition offer pampered packages for two to get the intimate mood flowing.
21st February – Dark Moon - Tilem Kawolu
The Balinese adhering to the Hindu Dharma religion will celebrate 'Tilem' in temple ceremonies, which are mostly held in every major temple and family shrines around the island of Bali. On this day Hindus make offerings to the Gods, placed on the ground at the entrance of each housing compound. The aim is to beg God's grace; so that one's dark thoughts will be illuminated by Him.
29th February – Leap Year
Every four years is known as a leap year, with 29 days in February instead of the usual 28!.
Galungan is a Balinese holiday that occurs every 210 days and lasts for 10 days. Kuningan is the last day of the holiday (see below). Galungan means 'When the Dharma is winning' – Dharma being good over evil. During this holiday the Balinese Gods visit the earth and leave on Kuningan. During the Galungan period the deified ancestors of the family descend to their former homes to be entertained by those on earth.
Although Galungan falls on a Wednesday, most Balinese will begin their Galungan 'holiday' the day before – on the 5th. 'Penjors' can be seen lining the streets to welcome good fortune to those who pass below to enter family homes. On Wednesday the 6th, the day of Galungan, most Balinese will try to return to their own ancestral home at some stage during the day, even if they work on another part of the island. As well as the family temples, visits, with offerings, are also made to the main village temple, and to the homes of other families who may have helped the family in some way over the past six months. The day after Galungan, the 7th, is a time for relaxation; visiting friends and maybe taking the opportunity to head to the mountains or beaches for a picnic.
February 5th – Islamic Holiday - Maulid Nabi Muhammad
Today is a national holiday to celebrate the Islamic Prophet Muhammad's birthday therefore all banks, government offices and some commerce will be closed.
7th February – Full Moon - Purnama Kawolu
The full moon (which has particular importance to the Balinese Hindus) falls on this day and ceremonies are held throughout the Hindu temples all across Bali. The Balinese that adhere to the Hindu Dharma religion will take offerings of food, fruit and flowers to the temple to be blesses by the priest. It is the essence of theses offerings that will be enjoyed by the deities. The Balinese themselves are then blessed by performing various rituals using holy water, incense smoke, petals and rice grains.
11th February – Hari Raya Kuningan
This day is always celebrated 10 days after Galungan and on a Saturday marking the end of the festivities, sending deified ancestors back to the heavens. There will be many colourful temple ceremonies, with the Balinese suitably attired coming to and fro, according plenty of photo opportunities. Please be patient when on the roads.
14th February – Valentines Day
The international day of love… a day to be romantic or to propose if it's on the cards. Choose to share a beautiful meal at one of the many stunning, seductive venues on offer. This is a day to get close to those dearest and nearest. Alternatively, one of the many day spas listed in this edition offer pampered packages for two to get the intimate mood flowing.
21st February – Dark Moon - Tilem Kawolu
The Balinese adhering to the Hindu Dharma religion will celebrate 'Tilem' in temple ceremonies, which are mostly held in every major temple and family shrines around the island of Bali. On this day Hindus make offerings to the Gods, placed on the ground at the entrance of each housing compound. The aim is to beg God's grace; so that one's dark thoughts will be illuminated by Him.
29th February – Leap Year
Every four years is known as a leap year, with 29 days in February instead of the usual 28!.
Wednesday, February 22, 2012
Kafe Bahasa: FREE EVENT
http://www.cintabahasa.com/kafebahasa/
Welcome to Kafe Bahasa!
Bar Luna & Cinta Bahasa Indonesian Language School mempersembahkan:
Kumpul-Kumpul Budaya Campur dalam Bahasa Indonesia
Ayo, tunjukkan kepedulianmu terhadap bahasa & budaya Indonesia dengan datang dan berpartisipasi di Kafe Bahasa – Bar Luna, setiap Jumat, dua kali sebulan! Akan ada pertunjukan musik, pemberian materi oleh pembicara asing/Indonesia, serta diskusi dengan komunitas lokal & ekspat. Dapatkan pengalaman lintas-budaya, lintas-bahasa & ekspresikan opinimu tentang topik hangat yang dibicarakan!
==========================================
An Evening of Presenters and Performers in the Indonesian Language
Whether you are fluent in Indonesian, or just starting to learn the national language, Kafe Bahasa is a great place to meet and mingle with the local community, learn about interesting things going on in Bali, hear some great presenters and performers, and improve your Indonesian by joining the conversation! Kafe Bahasa is twice-monthly, so sign up to receive an email about the next event. If you need interpretation, please ask your Indonesian-speaking friends to come with you!
Grup Gedebong Goyang – G3
Next Event:
Friday, February 24, 2012
7-9pm
Bar Luna, Jl. Gootama
Presenter & Performer: Grup Gedebong Goyang
==========================================
Grup Gedebong Goyang (G3) terdiri dari empat penyanyi/penari yaitu: Rucina Ballinger, Alex Ryan, Antonella De Santis, dan Suzan Kohlik dan lima pemain band dari DA BIYU BAND yang dipimpin oleh Kadek Balon.
Gedebong dibentuk dengan tujuan untuk menghibur komunitas lokal dengan membawakan lagu-lagu pop Bali, dangdut, reggae dan Bali rock alternative serta lelucon yang mengandung kritik sosial ringan. Keempat wanita asing tersebut telah puluhan tahun tinggal di Bali, bersuamikan orang Indonesia dan sangat mencintai Indonesia pada umumnya dan Bali khususnya.
Kecintaan mereka pada Indonesia dan Bali dibuktikan dengan fasihnya bahasa Indonesia mereka, kepedulian mereka terhadap budaya-sosial, bahkan beberapa diantara mereka lancar berbahasa Bali!
Ayo tonton serunya penampilan Gedebong yang akan mengangkat tema budaya dan sosial dalam bahasa Indonesia di Kafe Bahasa, Bar Luna!
Semua bisa berbahasa Indonesia dan rata-rata bisa berbahasa Bali.
==========================================
Grup Gedebong Goyang (G3) is a group of four performers: Rucina Ballinger, Alex Ryan, Antolla De Santis and Suzan Kohlik, together with five musicians, Da Biyu Band led by Kadek Balon.
They entertain singing Balinese Pop, Dangdut, Reggae and Alternative Bali Rock to provide humor and touch on social issues at the same time. These four foreign women have lived in Bali for many years, are married to Indonesian husbands, and love Indonesia in general, and Bali in particular! They all speak Indonesian, and most of them speak Balinese as well.
==========================================
4 Wanita di Balik Grup Gedebong Goyang:
Alex Ryan jatuh cinta dengan Indonesia pada tahun 1993 saat mengelilingi Kalimantan sebagai aktivis hutan. Dari sana hubungannya dengan nusantara yang tidak pernah putus. Alex memiliki gelar S1 Bahasa Indonesia dan Sosiologi dan terakreditasi sebagai penerjemah dan juru bahasa Indonesia dengan NAATI. Bersama suami yang berasal Kalimantan, Alex tinggal di Indonesia sejak tahun 2003 bersama ketiga putranya yang cakap. Saat ini dia bekerja sebagai konsultan untuk isu sosial dan lingkungan, mengelola perusahaan bisnis kayu bekas bernama Kaltimber dan menjabat sebagai anggota tim penasehat di perkumpulan Bali Cantik Tanpa Plastik.
Suzan Kohlik sudah tinggal di Bali sejak tahun 1996. Pekerjaannya sebagai seniman keramik membuatnya tertarik dengan lingkungan Ubud yang terkenal sebagai pusat seni di Bali. Di sini, Suzan juga bisa melihat peluang untuk membuat studio keramiknya. Karya keramik yang kontemporer diajarkan di berbagai lokakarya. Pada tahun 1999 dia menikah dan saat ini, pernikahannya telah membuahkan seorang remaja cantik. Suzan juga membuka sebuah kafe bernama JUICE JA pada tahun 2000 di Ubud. Karya keramik Suzan yang paling laris adalah piring “gedebong” dimana irisan gedebong dipakai sebagai cetakan!
Antonella deSantis tinggal di Bali sejak tahun 1992. Dia jatuh cinta pada tarian dan kesenian Bali, yang membuatnya juga jatuh cinta dan menikahi seorang dalang bernama I Wayan Wija. Mereka berdua memiliki dua putri yang cantik2! Dia mempromosikan wayang kulit dengan membawa rombongan suaminya ke beberapa beberapa festival di Itali, Jerman, Austria, Australia, Jepang, dan Amerika. Dia juga pemilik restoran Itali di Ubud bernama Black Beach yang juga dikenal sebagai tempat pemutaran film-film dari mancanegara. Selain itu, Antonella juga membuka sebuah butik yang menjual baju dan perhiasan yang ia rancang sendiri.
P.S: sampai sekarang Antonella belum bisa mengucapkan kata "sangat" dengan baik!
Rucina Ballinger mulai mempelajari tari Bali sejak tahun 1973 dan kemudian memutuskan untuk tinggal di Bali pada tahun 1974. Pernikahannya dengan AA Gede Putra Rangki membuahkan dua anak laki-laki yang luar biasa ganteng! Dia bekerja sebagai konsultan di Yayasan Annika Linden, dan Ibu yang fasih berbahasa Indonesia dan Bali ini juga menulis tentang budaya Bali. Kesibukan lainnya adalah mengelola Dhyana Putri Adventures (program edukatif/budaya) dan menjadi wakil presiden di Rotary Club Ubud Sunset sejak tahun 2010. Bukunya BALINESE DANCE, DRAMA AND MUSIC: AN INTRODUCTION TO BALINESE PERFORMING ARTS ditulis bersama Wayan Dibia dan telah dipublikasikan pada tahun 2004.
Welcome to Kafe Bahasa!
Bar Luna & Cinta Bahasa Indonesian Language School mempersembahkan:
Kumpul-Kumpul Budaya Campur dalam Bahasa Indonesia
Ayo, tunjukkan kepedulianmu terhadap bahasa & budaya Indonesia dengan datang dan berpartisipasi di Kafe Bahasa – Bar Luna, setiap Jumat, dua kali sebulan! Akan ada pertunjukan musik, pemberian materi oleh pembicara asing/Indonesia, serta diskusi dengan komunitas lokal & ekspat. Dapatkan pengalaman lintas-budaya, lintas-bahasa & ekspresikan opinimu tentang topik hangat yang dibicarakan!
==========================
An Evening of Presenters and Performers in the Indonesian Language
Whether you are fluent in Indonesian, or just starting to learn the national language, Kafe Bahasa is a great place to meet and mingle with the local community, learn about interesting things going on in Bali, hear some great presenters and performers, and improve your Indonesian by joining the conversation! Kafe Bahasa is twice-monthly, so sign up to receive an email about the next event. If you need interpretation, please ask your Indonesian-speaking friends to come with you!
Grup Gedebong Goyang – G3
Next Event:
Friday, February 24, 2012
7-9pm
Bar Luna, Jl. Gootama
Presenter & Performer: Grup Gedebong Goyang
==========================
Grup Gedebong Goyang (G3) terdiri dari empat penyanyi/penari yaitu: Rucina Ballinger, Alex Ryan, Antonella De Santis, dan Suzan Kohlik dan lima pemain band dari DA BIYU BAND yang dipimpin oleh Kadek Balon.
Gedebong dibentuk dengan tujuan untuk menghibur komunitas lokal dengan membawakan lagu-lagu pop Bali, dangdut, reggae dan Bali rock alternative serta lelucon yang mengandung kritik sosial ringan. Keempat wanita asing tersebut telah puluhan tahun tinggal di Bali, bersuamikan orang Indonesia dan sangat mencintai Indonesia pada umumnya dan Bali khususnya.
Kecintaan mereka pada Indonesia dan Bali dibuktikan dengan fasihnya bahasa Indonesia mereka, kepedulian mereka terhadap budaya-sosial, bahkan beberapa diantara mereka lancar berbahasa Bali!
Ayo tonton serunya penampilan Gedebong yang akan mengangkat tema budaya dan sosial dalam bahasa Indonesia di Kafe Bahasa, Bar Luna!
Semua bisa berbahasa Indonesia dan rata-rata bisa berbahasa Bali.
==========================
Grup Gedebong Goyang (G3) is a group of four performers: Rucina Ballinger, Alex Ryan, Antolla De Santis and Suzan Kohlik, together with five musicians, Da Biyu Band led by Kadek Balon.
They entertain singing Balinese Pop, Dangdut, Reggae and Alternative Bali Rock to provide humor and touch on social issues at the same time. These four foreign women have lived in Bali for many years, are married to Indonesian husbands, and love Indonesia in general, and Bali in particular! They all speak Indonesian, and most of them speak Balinese as well.
==========================
4 Wanita di Balik Grup Gedebong Goyang:
Alex Ryan jatuh cinta dengan Indonesia pada tahun 1993 saat mengelilingi Kalimantan sebagai aktivis hutan. Dari sana hubungannya dengan nusantara yang tidak pernah putus. Alex memiliki gelar S1 Bahasa Indonesia dan Sosiologi dan terakreditasi sebagai penerjemah dan juru bahasa Indonesia dengan NAATI. Bersama suami yang berasal Kalimantan, Alex tinggal di Indonesia sejak tahun 2003 bersama ketiga putranya yang cakap. Saat ini dia bekerja sebagai konsultan untuk isu sosial dan lingkungan, mengelola perusahaan bisnis kayu bekas bernama Kaltimber dan menjabat sebagai anggota tim penasehat di perkumpulan Bali Cantik Tanpa Plastik.
Suzan Kohlik sudah tinggal di Bali sejak tahun 1996. Pekerjaannya sebagai seniman keramik membuatnya tertarik dengan lingkungan Ubud yang terkenal sebagai pusat seni di Bali. Di sini, Suzan juga bisa melihat peluang untuk membuat studio keramiknya. Karya keramik yang kontemporer diajarkan di berbagai lokakarya. Pada tahun 1999 dia menikah dan saat ini, pernikahannya telah membuahkan seorang remaja cantik. Suzan juga membuka sebuah kafe bernama JUICE JA pada tahun 2000 di Ubud. Karya keramik Suzan yang paling laris adalah piring “gedebong” dimana irisan gedebong dipakai sebagai cetakan!
Antonella deSantis tinggal di Bali sejak tahun 1992. Dia jatuh cinta pada tarian dan kesenian Bali, yang membuatnya juga jatuh cinta dan menikahi seorang dalang bernama I Wayan Wija. Mereka berdua memiliki dua putri yang cantik2! Dia mempromosikan wayang kulit dengan membawa rombongan suaminya ke beberapa beberapa festival di Itali, Jerman, Austria, Australia, Jepang, dan Amerika. Dia juga pemilik restoran Itali di Ubud bernama Black Beach yang juga dikenal sebagai tempat pemutaran film-film dari mancanegara. Selain itu, Antonella juga membuka sebuah butik yang menjual baju dan perhiasan yang ia rancang sendiri.
P.S: sampai sekarang Antonella belum bisa mengucapkan kata "sangat" dengan baik!
Rucina Ballinger mulai mempelajari tari Bali sejak tahun 1973 dan kemudian memutuskan untuk tinggal di Bali pada tahun 1974. Pernikahannya dengan AA Gede Putra Rangki membuahkan dua anak laki-laki yang luar biasa ganteng! Dia bekerja sebagai konsultan di Yayasan Annika Linden, dan Ibu yang fasih berbahasa Indonesia dan Bali ini juga menulis tentang budaya Bali. Kesibukan lainnya adalah mengelola Dhyana Putri Adventures (program edukatif/budaya) dan menjadi wakil presiden di Rotary Club Ubud Sunset sejak tahun 2010. Bukunya BALINESE DANCE, DRAMA AND MUSIC: AN INTRODUCTION TO BALINESE PERFORMING ARTS ditulis bersama Wayan Dibia dan telah dipublikasikan pada tahun 2004.
TANDA HATI by Tony Raka
Tonyraka Art Gallery mengundang Teman-Teman untuk hadir di pembukaan pameran 4 perupa Bali ( I Wayan Sudarna Putra, I Ketut Suwidiarta, I Gusti Ngurah Buda, I Wayan Sandika) yang bertajuk TANDA HATI,
pada Jumat, 24 Februari 2012, pukul 18.30 wita di Tonyraka Art Gallery, Jl. Raya Mas 86, Mas, Ubud, Bali.
Pameran akan berlangsung hingga 16 Maret 2012.
Sampai jumpa!
_________________________________________________________
Membaca “Tanda Hati” Empat Perupa
Setiap perupa harus memiliki persoalan atau gagasan yang hendak dituang ke hamparan kanvas sehingga menjadi karya yang memiliki nilai dan maknanya sendiri. Persoalan atau gagasan itu bisa berasal dari diri si perupa sendiri atau dari interaksi perupa dengan lingkungan sosial atau pergaulan yang lebih luas. Perupa yang kreatif selalu berupaya menyerap setiap persoalan atau gagasan yang mengusik pikiran dan perasaanya, yang kemudian mengendap menjadi bahan renungan, dan menyublim ke dalam bentuk-bentuk karya yang diciptakannya.
Pada akhirnya, setiap karya seni akan menjadi “tanda hati”, suatu jejak atau tilas yang lahir dari ruang renungan perupa terhadap berbagai persoalan atau gagasan. Tak hanya perupa, setiap manusia sebagai sosok individu juga memiliki tanda hatinya sendiri, sebagai ungkapan ekspresi di dalam menjelajahi ruang-ruang sosial dan budaya. Tanda hati adalah ekspresi sekaligus juga eksistensi. Dalam tataran kualitas-kualitas tertentu, setiap manusia adalah seniman. Bahkan, Tuhan pun adalah Seniman Agung yang mengkreasi jagad raya beserta isinya. Jadi, jelaslah tanda hati lahir dari kesadaran jiwa “yang tercerahkan” oleh berbagai rupa persoalan atau pun gagasan.
Pameran ini menampilkan “tanda hati” dari empat perupa, yakni I Ketut Suwidiarta, I Wayan Sandika, I Wayan Sudarna Putra dan I Gusti Ngurah Putu Buda. Mereka adalah perupa yang cukup lama berkecimpung di ranah seni rupa, dengan karya-karya yang memiliki karakter tersendiri dan mengusung persoalan atau gagasan yang beragam. Selain kemampuan teknis, bukankah setiap perupa harus memiliki gagasan atau persoalan yang hendak dituang ke dalam bentuk karya? Suatu karya tanpa gagasan hanyalah omong kosong, sama halnya dengan wadah tanpa isi. Bahkan sebidang lukisan abstrak pun harus mengandung suatu gagasan.
Gagasan tentu lahir dari tingkat kepekaan dan kecerdasan si perupa dalam menyerap, menyikapi, mengritisi berbagai fenomena yang terjadi, baik di dalam dirinya maupun di luar dirinya. Persoalannya sekarang adalah di bawah bayang-bayang kecanggihan teknik, dunia seni rupa kita malah miskin gagasan. Ke depan, perlu lebih banyak lahir gagasan-gagasan bernas sehingga seni rupa kita bisa diperhitungkan di tingkat internasional.
Agar tidak ngelantur terlalu jauh, ijinkan saya menjadi penyambung lidah empat perupa ini untuk menyuarakan gagasan-gagasan yang semayam di benak mereka, serta mengulas satu dua karya mereka. Sebagai benang merah, pameran “Tanda Hati” ini didasari upaya-upaya mengungkap fenomena-fenomena ironis maupun satir yang terjadi di berbagai lini kehidupan. “Tanda Hati” merupakan kesaksian perupa atas berbagai persoalan atau peristiwa yang mengusik nuraninya.
Tanda hati serta gagasan karya-karya Suwidiarta bersumber dari persoalan globalisasi yang hingga kini banyak menimbulkan fenomena baru. Batas-batas negara seolah tak ada. Dalam fenomena internet, misalnya, dunia menjadi seukuran layar laptop, tablet, ponsel. Warga negara menjadi warga dunia. Perlahan rasa nasionalisme terkikis. Negara tak lagi menjadi soko guru kehidupan. Orang-orang mencari formulasi baru dengan mencomot berbagai budaya dan filosofi. Suwidiarta berupaya merangkum berbagai persoalan dari latar-latar budaya yang berbeda, terutama persoalan hilangnya rasa kebangsaan. Fenomena ini memunculkan ironi, satir, parodi yang bisa kita saksikan lewat karya-karya seni rupanya.
Misalnya, pada lukisan berjudul “Triumph of Death” dan “Lost”, Suwidiarta memainkan berbagai ikon dan simbol lintas budaya dengan nuansa parodi yang kental. Sosok Gajah Mada berbalut kostum jenderal terlentang disangga anak-anak panah layaknya adegan Bhisma Gugur dalam epos Mahabarata, dikerubungi dan diratapi oleh tokoh-tokoh dari berbagai ras dan negara. Karya-karya ini merepresentasikan makin samarnya batas-batas mitos, epos, etnis, ras, budaya, negara, rasa nasionalisme, di tengah arus deras globalisasi yang terus mengalir hingga detik ini.
I Wayan Sandika meramu gagasan-gagasan karyanya dari persoalan yang paling dekat dengan diri manusia, yakni keluarga. Sandika merenungi kembali hakikat hubungan orang tua dan anak. Dalam psikologi anak diibaratkan kertas putih yang siap diisi dengan aneka warna kehidupan. Anak dengan mudah menyerap dan meniru perkataan dan perbuatan orang tuanya. Jika orang tua sering berkata kasar, maka dapat dipastikan anak pun akan suka berkata kasar. Begitu pula jika anak dididik dengan kasih sayang, maka anak akan tumbuh sesuai didikan orang tuanya.
Di tengah kesibukan orang tua, anak-anak sering terabaikan. Bahkan, mereka bisa tumbuh liar dengan menyerap atau meniru hal-hal yang tak pantas. Lukisan berjudul “Massage” dengan ironis menampilkan balita (bayi di bawah lima tahun) yang asyik merokok sambil berendam di bak air. Sebelumnya, di situs youtube pernah muncul video balita yang merokok. Mungkin maksudnya untuk lucu-lucuan, namun video itu dikecam masyarakat dunia sebagai suatu bentuk eksploitasi dan mengajarkan hal yang tak pantas pada anak-anak. Sementara itu, lukisan ini jelas tujuannya bukan untuk lucu-lucuan, melainkan terkandung suatu pesan agar hati-hati mendidik anak.
Ironi-ironi hubungan orang tua dan anak juga muncul dalam lukisan-lukisan Sandika yang lain. Pada lukisan “Single Parent”, Sandika menampilkan sosok wanita seksi menenteng dua bungkusan, masing-masing berisi boneka dan balita. Yang menjadi fokus sekaligus pesan pada lukisan ini adalah cara wanita itu memperlakukan anaknya sungguh jauh dari sifat seorang ibu yang penuh kasih sayang. Seringkali kesibukan mengejar karir berdampak pada telantarnya anak-anak. Di lukisan ini tampak si balita diperlakukan sama dengan benda atau boneka yang mudah ditenteng. Seolah si balita bukanlah manusia yang perlu dicurahi kasih sayang.
Tak banyak yang mampu mengenali dirinya sendiri. Sebab mengenali diri sendiri dan mengakui diri seutuhnya memerlukan kesiapan mental. Manusia sering dikendalikan oleh pencitraan diri dan seringkali bereaksi terhadap penilaian dari lingkungannya. Pencitraan diri adalah topeng yang sengaja dipakai manusia untuk menutupi keburukan atau kekurangannya. Perlu kesiapan mental dan kesadaran diri untuk membuka topeng-topeng itu sehingga manusia mencapai keutuhannya, memiliki kelebihan sekaligus kekurangan. Hal-hal inilah yang menjadi gagasan dan perenungan karya-karya I Wayan Sudarna Putra.
Seri lukisan terbaru Sudarna yang bertajuk “Si Buruk Rupa” merupakan bagian dari proses pengenalan dirinya sendiri. Ada pertanyaan besar yang terus menerus menjadi bahan renungannya: siapakah aku ? Tak henti dia memburu jati dirinya sebagai manusia. Representasi wajah-wajah buruk yang digubah dari wajahnya sendiri merupakan bentuk pengakuan ketaksempurnaan diri, semacam autokritik. Wajah-wajah itu tertempel di kaca, pipih, tak berbentuk, bahkan tampak menjijikkan. Menyimak karya-karya ini, saya jadi berpikir: sesungguhnya manusia adalah mahkluk yang paling menjijikkan, yang selalu berupaya meraih kesempurnaan.
Lewat representasi abstraksi yang cenderung kelam, I Gusti Ngurah Putu Buda menyuguhkan gagasan dan persoalan yang berkaitan dengan diri sendiri (konflik batin), konflik sosial, krisis global, dan berbagai peristiwa kelam yang terjadi akhir-akhir ini, baik di tingkat lokal, nasional maupun internasional. Berbagai persoalan dan peristiwa di dalam dan luar diri bersenyawa membentuk cara pandang yang cenderung pesimis. Seolah semua menghadapi kuldesak (jalan buntu), dan seakan tak ada solusi yang berarti. Namun, kalau direnungi lebih seksama, segala persoalan dan peristiwa pada akhirnya menempa manusia untuk berupaya menemukan celah-celah harapan, yang membuat manusia masih betah bertahan mengarungi kehidupan.
Begitulah. Karya-karya Gusti Buda yang cenderung menggunakan warna-warna gelap merupakan cerminan persoalan yang terjadi di dalam dirinya dan persoalan sosial yang lebih luas. Misalnya, lukisan “Dark Neast” bertolak dari fenomena sosial yang bagaikan ranah kelam dan manusia berada dalam situasi tak menentu, gelap tanpa harapan. Namun, melalui lukisan “Toward Light”, Gusti Buda menyampaikan pesan bahwa dalam setiap kegelapan, cahaya sekecil apa pun bisa dimaknai sebagai harapan.
Empat perupa telah menyuguhkan tanda hatinya. Yakni, karya-karya yang mewakili cerminan hati nurani masing-masing perupa ketika merespon berbagai persoalan, baik yang bersumber dari dalam diri maupun luar diri. Selanjutnya, terserah apresian memaknai kembali masing-masing tanda hati itu. Semoga berguna.
Oleh :
Wayan ‘Jengki’ Sunarta
Lulusan Antropologi Budaya, Fakultas Sastra, Universitas Udayana. Pernah kuliah seni lukis di ISI Denpasar.
pada Jumat, 24 Februari 2012, pukul 18.30 wita di Tonyraka Art Gallery, Jl. Raya Mas 86, Mas, Ubud, Bali.
Pameran akan berlangsung hingga 16 Maret 2012.
Sampai jumpa!
_________________________________________________________
Membaca “Tanda Hati” Empat Perupa
Setiap perupa harus memiliki persoalan atau gagasan yang hendak dituang ke hamparan kanvas sehingga menjadi karya yang memiliki nilai dan maknanya sendiri. Persoalan atau gagasan itu bisa berasal dari diri si perupa sendiri atau dari interaksi perupa dengan lingkungan sosial atau pergaulan yang lebih luas. Perupa yang kreatif selalu berupaya menyerap setiap persoalan atau gagasan yang mengusik pikiran dan perasaanya, yang kemudian mengendap menjadi bahan renungan, dan menyublim ke dalam bentuk-bentuk karya yang diciptakannya.
Pada akhirnya, setiap karya seni akan menjadi “tanda hati”, suatu jejak atau tilas yang lahir dari ruang renungan perupa terhadap berbagai persoalan atau gagasan. Tak hanya perupa, setiap manusia sebagai sosok individu juga memiliki tanda hatinya sendiri, sebagai ungkapan ekspresi di dalam menjelajahi ruang-ruang sosial dan budaya. Tanda hati adalah ekspresi sekaligus juga eksistensi. Dalam tataran kualitas-kualitas tertentu, setiap manusia adalah seniman. Bahkan, Tuhan pun adalah Seniman Agung yang mengkreasi jagad raya beserta isinya. Jadi, jelaslah tanda hati lahir dari kesadaran jiwa “yang tercerahkan” oleh berbagai rupa persoalan atau pun gagasan.
Pameran ini menampilkan “tanda hati” dari empat perupa, yakni I Ketut Suwidiarta, I Wayan Sandika, I Wayan Sudarna Putra dan I Gusti Ngurah Putu Buda. Mereka adalah perupa yang cukup lama berkecimpung di ranah seni rupa, dengan karya-karya yang memiliki karakter tersendiri dan mengusung persoalan atau gagasan yang beragam. Selain kemampuan teknis, bukankah setiap perupa harus memiliki gagasan atau persoalan yang hendak dituang ke dalam bentuk karya? Suatu karya tanpa gagasan hanyalah omong kosong, sama halnya dengan wadah tanpa isi. Bahkan sebidang lukisan abstrak pun harus mengandung suatu gagasan.
Gagasan tentu lahir dari tingkat kepekaan dan kecerdasan si perupa dalam menyerap, menyikapi, mengritisi berbagai fenomena yang terjadi, baik di dalam dirinya maupun di luar dirinya. Persoalannya sekarang adalah di bawah bayang-bayang kecanggihan teknik, dunia seni rupa kita malah miskin gagasan. Ke depan, perlu lebih banyak lahir gagasan-gagasan bernas sehingga seni rupa kita bisa diperhitungkan di tingkat internasional.
Agar tidak ngelantur terlalu jauh, ijinkan saya menjadi penyambung lidah empat perupa ini untuk menyuarakan gagasan-gagasan yang semayam di benak mereka, serta mengulas satu dua karya mereka. Sebagai benang merah, pameran “Tanda Hati” ini didasari upaya-upaya mengungkap fenomena-fenomena ironis maupun satir yang terjadi di berbagai lini kehidupan. “Tanda Hati” merupakan kesaksian perupa atas berbagai persoalan atau peristiwa yang mengusik nuraninya.
Tanda hati serta gagasan karya-karya Suwidiarta bersumber dari persoalan globalisasi yang hingga kini banyak menimbulkan fenomena baru. Batas-batas negara seolah tak ada. Dalam fenomena internet, misalnya, dunia menjadi seukuran layar laptop, tablet, ponsel. Warga negara menjadi warga dunia. Perlahan rasa nasionalisme terkikis. Negara tak lagi menjadi soko guru kehidupan. Orang-orang mencari formulasi baru dengan mencomot berbagai budaya dan filosofi. Suwidiarta berupaya merangkum berbagai persoalan dari latar-latar budaya yang berbeda, terutama persoalan hilangnya rasa kebangsaan. Fenomena ini memunculkan ironi, satir, parodi yang bisa kita saksikan lewat karya-karya seni rupanya.
Misalnya, pada lukisan berjudul “Triumph of Death” dan “Lost”, Suwidiarta memainkan berbagai ikon dan simbol lintas budaya dengan nuansa parodi yang kental. Sosok Gajah Mada berbalut kostum jenderal terlentang disangga anak-anak panah layaknya adegan Bhisma Gugur dalam epos Mahabarata, dikerubungi dan diratapi oleh tokoh-tokoh dari berbagai ras dan negara. Karya-karya ini merepresentasikan makin samarnya batas-batas mitos, epos, etnis, ras, budaya, negara, rasa nasionalisme, di tengah arus deras globalisasi yang terus mengalir hingga detik ini.
I Wayan Sandika meramu gagasan-gagasan karyanya dari persoalan yang paling dekat dengan diri manusia, yakni keluarga. Sandika merenungi kembali hakikat hubungan orang tua dan anak. Dalam psikologi anak diibaratkan kertas putih yang siap diisi dengan aneka warna kehidupan. Anak dengan mudah menyerap dan meniru perkataan dan perbuatan orang tuanya. Jika orang tua sering berkata kasar, maka dapat dipastikan anak pun akan suka berkata kasar. Begitu pula jika anak dididik dengan kasih sayang, maka anak akan tumbuh sesuai didikan orang tuanya.
Di tengah kesibukan orang tua, anak-anak sering terabaikan. Bahkan, mereka bisa tumbuh liar dengan menyerap atau meniru hal-hal yang tak pantas. Lukisan berjudul “Massage” dengan ironis menampilkan balita (bayi di bawah lima tahun) yang asyik merokok sambil berendam di bak air. Sebelumnya, di situs youtube pernah muncul video balita yang merokok. Mungkin maksudnya untuk lucu-lucuan, namun video itu dikecam masyarakat dunia sebagai suatu bentuk eksploitasi dan mengajarkan hal yang tak pantas pada anak-anak. Sementara itu, lukisan ini jelas tujuannya bukan untuk lucu-lucuan, melainkan terkandung suatu pesan agar hati-hati mendidik anak.
Ironi-ironi hubungan orang tua dan anak juga muncul dalam lukisan-lukisan Sandika yang lain. Pada lukisan “Single Parent”, Sandika menampilkan sosok wanita seksi menenteng dua bungkusan, masing-masing berisi boneka dan balita. Yang menjadi fokus sekaligus pesan pada lukisan ini adalah cara wanita itu memperlakukan anaknya sungguh jauh dari sifat seorang ibu yang penuh kasih sayang. Seringkali kesibukan mengejar karir berdampak pada telantarnya anak-anak. Di lukisan ini tampak si balita diperlakukan sama dengan benda atau boneka yang mudah ditenteng. Seolah si balita bukanlah manusia yang perlu dicurahi kasih sayang.
Tak banyak yang mampu mengenali dirinya sendiri. Sebab mengenali diri sendiri dan mengakui diri seutuhnya memerlukan kesiapan mental. Manusia sering dikendalikan oleh pencitraan diri dan seringkali bereaksi terhadap penilaian dari lingkungannya. Pencitraan diri adalah topeng yang sengaja dipakai manusia untuk menutupi keburukan atau kekurangannya. Perlu kesiapan mental dan kesadaran diri untuk membuka topeng-topeng itu sehingga manusia mencapai keutuhannya, memiliki kelebihan sekaligus kekurangan. Hal-hal inilah yang menjadi gagasan dan perenungan karya-karya I Wayan Sudarna Putra.
Seri lukisan terbaru Sudarna yang bertajuk “Si Buruk Rupa” merupakan bagian dari proses pengenalan dirinya sendiri. Ada pertanyaan besar yang terus menerus menjadi bahan renungannya: siapakah aku ? Tak henti dia memburu jati dirinya sebagai manusia. Representasi wajah-wajah buruk yang digubah dari wajahnya sendiri merupakan bentuk pengakuan ketaksempurnaan diri, semacam autokritik. Wajah-wajah itu tertempel di kaca, pipih, tak berbentuk, bahkan tampak menjijikkan. Menyimak karya-karya ini, saya jadi berpikir: sesungguhnya manusia adalah mahkluk yang paling menjijikkan, yang selalu berupaya meraih kesempurnaan.
Lewat representasi abstraksi yang cenderung kelam, I Gusti Ngurah Putu Buda menyuguhkan gagasan dan persoalan yang berkaitan dengan diri sendiri (konflik batin), konflik sosial, krisis global, dan berbagai peristiwa kelam yang terjadi akhir-akhir ini, baik di tingkat lokal, nasional maupun internasional. Berbagai persoalan dan peristiwa di dalam dan luar diri bersenyawa membentuk cara pandang yang cenderung pesimis. Seolah semua menghadapi kuldesak (jalan buntu), dan seakan tak ada solusi yang berarti. Namun, kalau direnungi lebih seksama, segala persoalan dan peristiwa pada akhirnya menempa manusia untuk berupaya menemukan celah-celah harapan, yang membuat manusia masih betah bertahan mengarungi kehidupan.
Begitulah. Karya-karya Gusti Buda yang cenderung menggunakan warna-warna gelap merupakan cerminan persoalan yang terjadi di dalam dirinya dan persoalan sosial yang lebih luas. Misalnya, lukisan “Dark Neast” bertolak dari fenomena sosial yang bagaikan ranah kelam dan manusia berada dalam situasi tak menentu, gelap tanpa harapan. Namun, melalui lukisan “Toward Light”, Gusti Buda menyampaikan pesan bahwa dalam setiap kegelapan, cahaya sekecil apa pun bisa dimaknai sebagai harapan.
Empat perupa telah menyuguhkan tanda hatinya. Yakni, karya-karya yang mewakili cerminan hati nurani masing-masing perupa ketika merespon berbagai persoalan, baik yang bersumber dari dalam diri maupun luar diri. Selanjutnya, terserah apresian memaknai kembali masing-masing tanda hati itu. Semoga berguna.
Oleh :
Wayan ‘Jengki’ Sunarta
Lulusan Antropologi Budaya, Fakultas Sastra, Universitas Udayana. Pernah kuliah seni lukis di ISI Denpasar.
Denpasar dalam Puisi
Denpasar dalam Puisi
Berkaitan dengan HUT Kota Denpasar, Dapur Olah Kreatif (DOK) Denpasar akan menggelar Malam Apresiasi Puisi dan Diskusi, pada Sabtu, 25 Februari 2012, Jam 19.00 wita, di Warung Tresni, Jl. Drupadi No. 54, Renon, Denpasar.
Acara akan diisi dengan pembacaan puisi bertema Denpasar oleh Tan Lioe Ie, Warih Wisatsana, Didon Kajeng, Ni Made Purnamasari, Pranita Dewi, Mira Astra. Selanjutnya akan digelar diskusi bertajuk “Denpasar dalam Puisi”, dengan pembicara Tan Lioe Ie, dipandu Wayan Sunarta. Acara gratis dan terbuka untuk umum. Silakan datang….
Berkaitan dengan HUT Kota Denpasar, Dapur Olah Kreatif (DOK) Denpasar akan menggelar Malam Apresiasi Puisi dan Diskusi, pada Sabtu, 25 Februari 2012, Jam 19.00 wita, di Warung Tresni, Jl. Drupadi No. 54, Renon, Denpasar.
Acara akan diisi dengan pembacaan puisi bertema Denpasar oleh Tan Lioe Ie, Warih Wisatsana, Didon Kajeng, Ni Made Purnamasari, Pranita Dewi, Mira Astra. Selanjutnya akan digelar diskusi bertajuk “Denpasar dalam Puisi”, dengan pembicara Tan Lioe Ie, dipandu Wayan Sunarta. Acara gratis dan terbuka untuk umum. Silakan datang….
Thursday, January 12, 2012
Tuesday, January 10, 2012
Body and Soul Clothing International Great Annual Nationwide Sale up to 70% off All items
Thursday, January 5, 2012
Wednesday, January 4, 2012
ART INFINITUM at Tony Raka Gallery, Ubud - Bali
Tonyraka Art Gallery proudly present an art exhibition entitled ART INFINITUM as our first exhibition in 2012. This exhibition is a collaboration between Jan Tyniec, Joel Singer, Linda Connor, Lonnie Graham, Made Wianta and Vladik Monroe. The exhibition will be open on Friday, 13 January 2012 at 6.30 pm at Tonyraka Art Gallery in Jl. Raya Mas 86, Mas, Ubud, Bali. The exhibition will continue until 3 February 2012. See you and please enjoy the show.
Indeed, the most enduring triumph of photography has been its aptitude for discovering beauty in the humble, the inane, the decrepit. At the very least, the real has a pathos. And that pathos is beauty.
-Susan Sontag, On Photography
PHOTOGRAPHY: ART INFINITUM
At the time the daguerreotype was invented in the 1800s, painting was the primary art form. In an era that is often referred to as pictorialism, photographers began to make their photographs look like paintings. In their efforts to bring photography closer to painting, photographers combined technological innovation with creativity through various messy experiments in order to achieve soft focus and painterly effects, such as hazy light.
In 1888, George Eastman introduced the first Kodak camera that contained film-roll with the famous slogan, “You press the button, we do the rest”. Since then, photography has never lost its popularity. It seemed that the first easy-to-use camera had allowed everyone to take pictures easily. Technical advances had made taking photographs ever simpler and enabled general public to participate in the business. Photography became popular industry. But along with the “industrialization" of photography, there was growing concern about qualitative decline of photography. It was perceived that the popularity of photography had undermined the aesthetic standards of photography, because photography was increasingly seen as a mechanical activity that required no skill. As the editors of American Amateur Photographer (July 1889) observe, “Photography has been degraded to the level of an amusement.”
Many photographers feared that photography was too mechanical and drifted further and further away from the realm of art, especially from painting. This fear had contributed to the development of photography as a recognized art form on a par with other art forms, such as painting and sculpture. In an effort to make people realize that photography was an art form in its own right, and that photographers were artists and not simply people shooting snapshots, the famous American photographer, Alfred Stieglitz, in the early 1900s founded the Photo-Secession as well as the magazine, Camera Work, to promote pictorialism. Stieglitz believed that “photographic equipment: the lens, the plates and so on constitute a flexible instrument and not a mere mechanical tyrant” (W. Kemp 1980). The Photo-Secessionist photographers often manipulated photographic process, especially by employing a wide variety of printmaking tricks, to achieve painterly effects in their photographs.
Then Paul Strand promoted “straight photography”, as exemplified in the photographs he made around 1916 without using any tricks of photographic manipulation. Against pictorialism or artistic photography, Strand believed that photography should find its “absolute unqualified objectivity” by investigating photography’s own inherent characteristics. He had successfully combined the concept of painterly abstraction with the idea of straight, sharp focus, photography. In this type of photography, artistic quality was achieved by emphasizing methods of creating the image in the camera at the moment of exposure.
Since the 1960s, thanks to the efforts the Museum of Modern Art (MoMA) in New York, especially its Director of Photography, John Szarkowski, photography has obtained the status of high art or fine art. Photography has become recognized as singular, authentic, work of art on a par with painting, sculpture and other art forms. This prestigious fine art status was based on photography’s claims to Benjaminian “aura”: photography as auratic image. According to Walter Benjamin, “aura” comprised those qualities of singularity and uniqueness which produced the authoritative presence of the original work of art. In this sense, “art photography” refers to photographs endowed with technical virtuosity and artistic originality, understood as the unique expression of individual author-photographer.
In the 1970s, photography contributed to the redefinition of “art” when it began to become one of significant “weapons” for postmodernist artists in the West in their struggle against the notions of modernist art. As Abigail Solomon-Godeau observes, “Virtually every critical and theoretical issue with which postmodernist art may be said to engage in one sense or another can be located within photography” (B. Wallis 1984). Postmodernist artists like Sherrie Levine, Cindy Sherman and Victor Burgin used the photographic medium to expose photography’s ambivalence: Photography is in no way transparent, not at all clear of cultural formation, yet it is technically tied with the real. Postmodern photography defines the photographer as more the manipulator of signs than the producer of an art object, and the viewers as more the active reader of signs than the passive consumer of aesthetic beauty.
In the 1980s, photography found a place in video installations, a new media that transformed “art”. The arrival of digital photography transformed “art” even further. Along with other new media and the Internet, the use of image manipulation with digital devices has reinvented photography and redefined the art of photography. As technology advances, photography and videography are becoming one, and the melding of the two different media will determine the future of photography.
Linda Hutcheon (1989) see paradox at the heart of the photographic medium: photography is controlled by the subjectivity of the photographer's eye on the one hand, and by the objectivity of the camera’s technology, its seemingly transparent realism of recording, on the other hand. According to Hutcheon, these two poles are difficult to reconcile. Nevertheless, she sees the trend toward a suspicion of the scientific neutrality of photographic recording technology. As D. Davis (1977) observes, “Photograph has ceased to be a window on the world, through which we see things as they are. It is rather a highly selective filter, placed there by a specific hand and mind.”
Featuring the works of six artists working with photography, the current exhibition, Art Infinitum, take the position that it is precisely because of its paradox, because of the abyss between the subjectivity of the photographer's eye and the objectivity of the camera’s technology, photography has something of infinity as an art that continually redefine itself as well as the ways in which we are seen and see ourselves and the world. With the exception of one Indonesian artist (Made Wianta), this exhibition involves Western artists (Jan Tyniec, Linda Connor, Lonnie Graham, Joel Singer, Vladik Monroe) who are certainly more familiar with the history and the discourse of photography, a medium that was invented and has reached its maturity in the West. Given the fact that the exhibition takes place in Indonesia, where the history and the discourse of photography is less known by the art lovers, even by artists and photographers, it is important to put a brief account of the history and the discourse of photography in the background of the exhibition. Art Infinitum presents photography as an infinite included into a finite: an art form that continually evolving through the time. Photography as an art infinitum.
* writing by Arif Bagus Prasetya ( Arif Bagus Prasetyo is a curator, alumnus of the IWP University of Iowa, USA.)
Indeed, the most enduring triumph of photography has been its aptitude for discovering beauty in the humble, the inane, the decrepit. At the very least, the real has a pathos. And that pathos is beauty.
-Susan Sontag, On Photography
PHOTOGRAPHY: ART INFINITUM
At the time the daguerreotype was invented in the 1800s, painting was the primary art form. In an era that is often referred to as pictorialism, photographers began to make their photographs look like paintings. In their efforts to bring photography closer to painting, photographers combined technological innovation with creativity through various messy experiments in order to achieve soft focus and painterly effects, such as hazy light.
In 1888, George Eastman introduced the first Kodak camera that contained film-roll with the famous slogan, “You press the button, we do the rest”. Since then, photography has never lost its popularity. It seemed that the first easy-to-use camera had allowed everyone to take pictures easily. Technical advances had made taking photographs ever simpler and enabled general public to participate in the business. Photography became popular industry. But along with the “industrialization" of photography, there was growing concern about qualitative decline of photography. It was perceived that the popularity of photography had undermined the aesthetic standards of photography, because photography was increasingly seen as a mechanical activity that required no skill. As the editors of American Amateur Photographer (July 1889) observe, “Photography has been degraded to the level of an amusement.”
Many photographers feared that photography was too mechanical and drifted further and further away from the realm of art, especially from painting. This fear had contributed to the development of photography as a recognized art form on a par with other art forms, such as painting and sculpture. In an effort to make people realize that photography was an art form in its own right, and that photographers were artists and not simply people shooting snapshots, the famous American photographer, Alfred Stieglitz, in the early 1900s founded the Photo-Secession as well as the magazine, Camera Work, to promote pictorialism. Stieglitz believed that “photographic equipment: the lens, the plates and so on constitute a flexible instrument and not a mere mechanical tyrant” (W. Kemp 1980). The Photo-Secessionist photographers often manipulated photographic process, especially by employing a wide variety of printmaking tricks, to achieve painterly effects in their photographs.
Then Paul Strand promoted “straight photography”, as exemplified in the photographs he made around 1916 without using any tricks of photographic manipulation. Against pictorialism or artistic photography, Strand believed that photography should find its “absolute unqualified objectivity” by investigating photography’s own inherent characteristics. He had successfully combined the concept of painterly abstraction with the idea of straight, sharp focus, photography. In this type of photography, artistic quality was achieved by emphasizing methods of creating the image in the camera at the moment of exposure.
Since the 1960s, thanks to the efforts the Museum of Modern Art (MoMA) in New York, especially its Director of Photography, John Szarkowski, photography has obtained the status of high art or fine art. Photography has become recognized as singular, authentic, work of art on a par with painting, sculpture and other art forms. This prestigious fine art status was based on photography’s claims to Benjaminian “aura”: photography as auratic image. According to Walter Benjamin, “aura” comprised those qualities of singularity and uniqueness which produced the authoritative presence of the original work of art. In this sense, “art photography” refers to photographs endowed with technical virtuosity and artistic originality, understood as the unique expression of individual author-photographer.
In the 1970s, photography contributed to the redefinition of “art” when it began to become one of significant “weapons” for postmodernist artists in the West in their struggle against the notions of modernist art. As Abigail Solomon-Godeau observes, “Virtually every critical and theoretical issue with which postmodernist art may be said to engage in one sense or another can be located within photography” (B. Wallis 1984). Postmodernist artists like Sherrie Levine, Cindy Sherman and Victor Burgin used the photographic medium to expose photography’s ambivalence: Photography is in no way transparent, not at all clear of cultural formation, yet it is technically tied with the real. Postmodern photography defines the photographer as more the manipulator of signs than the producer of an art object, and the viewers as more the active reader of signs than the passive consumer of aesthetic beauty.
In the 1980s, photography found a place in video installations, a new media that transformed “art”. The arrival of digital photography transformed “art” even further. Along with other new media and the Internet, the use of image manipulation with digital devices has reinvented photography and redefined the art of photography. As technology advances, photography and videography are becoming one, and the melding of the two different media will determine the future of photography.
Linda Hutcheon (1989) see paradox at the heart of the photographic medium: photography is controlled by the subjectivity of the photographer's eye on the one hand, and by the objectivity of the camera’s technology, its seemingly transparent realism of recording, on the other hand. According to Hutcheon, these two poles are difficult to reconcile. Nevertheless, she sees the trend toward a suspicion of the scientific neutrality of photographic recording technology. As D. Davis (1977) observes, “Photograph has ceased to be a window on the world, through which we see things as they are. It is rather a highly selective filter, placed there by a specific hand and mind.”
Featuring the works of six artists working with photography, the current exhibition, Art Infinitum, take the position that it is precisely because of its paradox, because of the abyss between the subjectivity of the photographer's eye and the objectivity of the camera’s technology, photography has something of infinity as an art that continually redefine itself as well as the ways in which we are seen and see ourselves and the world. With the exception of one Indonesian artist (Made Wianta), this exhibition involves Western artists (Jan Tyniec, Linda Connor, Lonnie Graham, Joel Singer, Vladik Monroe) who are certainly more familiar with the history and the discourse of photography, a medium that was invented and has reached its maturity in the West. Given the fact that the exhibition takes place in Indonesia, where the history and the discourse of photography is less known by the art lovers, even by artists and photographers, it is important to put a brief account of the history and the discourse of photography in the background of the exhibition. Art Infinitum presents photography as an infinite included into a finite: an art form that continually evolving through the time. Photography as an art infinitum.
* writing by Arif Bagus Prasetya ( Arif Bagus Prasetyo is a curator, alumnus of the IWP University of Iowa, USA.)
Wednesday, December 21, 2011
Monday, December 19, 2011
ART, SHIT, PARASITE by Made Budhiana at Bentara Budaya Bali
Wednesday, December 14, 2011
CALENDAR OF EVENTS - DECEMBER 2011
3rd December - Tumpek Landep
This day is devoted to the Agama Hindu God "Sanghyang Pasupati" when blessing ceremonies are conducted over heirlooms, sacred weapons and all instruments and tools made of metal (even cars & motorbikes), to bestow good energy for both day to day functioning as well as believed magical powers. This ceremony is held throughout Bali, especially at smiths, garages and works shops.
10th December 3pm – Teddy Bear Tea with Santa at Padi Restaurant
Each child will receive High Tea served in a customized set of tea-cups, an AYANA Resort & Spa teddy bear and cookies, and paint their own hand-made Jenggala Ceramics Christmas ornament. There will also be Christmas story telling. Rp110,000++/child including access to the children's pool and waterslides; Rp150,000++/adult. www.ayanaresort.com
10th December – Full Moon - Purnama Sasih Kenam
The full moon (which has particular importance to the Balinese Hindus) falls on this day and ceremonies are held throughout the Hindu temples all across Bali. The Balinese that adhere to the Hindu Dharma religion will take offerings of food, fruit and flowers to the temple to be blesses by the priest. It is the essence of theses offerings that will be enjoyed by the deities. The Balinese themselves are then blessed by performing various rituals using holy water, incense smoke, petals and rice grains.
18th December 9-11am – Breakfast with Santa
Indulge in a festive buffet with the classic favorites and live cooking stations. Children will be invited to take part in Christmas cookie decoration and pool games.
Rp100,000++/child including access to the children's pool and waterslides; Rp200,000++/adult. www.ayanaresort.com
24th December – Dark Moon - Tilem Sasih Kanem
The Balinese adhering to the Hindu Dharma religion will celebrate 'Tilem' in temple ceremonies, which are mostly held in every major temple and family shrines around the island of Bali. On this day Hindus make offerings to the Gods, placed on the ground at the entrance of each housing compound. The aim is to beg God's grace; so that one's dark thoughts are illuminated by Him.
24th December – Christmas Eve
This is a fun night to be had, either intimately over a family Christmas dinner at many of the hotels, restaurants, resorts and private villas all ready to serve up traditional turkey or a Balinese 'bebek' (duck). Or kick your heels up with your friends for a wild night of dancing and parties at all the bars and clubs along the southern coast. Bali is a wonderful choice to welcome in Christmas in the tropics.
25th December – Christmas Day
This is a national holiday and is celebrated across the island in all hotels, restaurants, bars and clubs with special festivities programs. All banks and government offices will be closed.
This day is devoted to the Agama Hindu God "Sanghyang Pasupati" when blessing ceremonies are conducted over heirlooms, sacred weapons and all instruments and tools made of metal (even cars & motorbikes), to bestow good energy for both day to day functioning as well as believed magical powers. This ceremony is held throughout Bali, especially at smiths, garages and works shops.
10th December 3pm – Teddy Bear Tea with Santa at Padi Restaurant
Each child will receive High Tea served in a customized set of tea-cups, an AYANA Resort & Spa teddy bear and cookies, and paint their own hand-made Jenggala Ceramics Christmas ornament. There will also be Christmas story telling. Rp110,000++/child including access to the children's pool and waterslides; Rp150,000++/adult. www.ayanaresort.com
10th December – Full Moon - Purnama Sasih Kenam
The full moon (which has particular importance to the Balinese Hindus) falls on this day and ceremonies are held throughout the Hindu temples all across Bali. The Balinese that adhere to the Hindu Dharma religion will take offerings of food, fruit and flowers to the temple to be blesses by the priest. It is the essence of theses offerings that will be enjoyed by the deities. The Balinese themselves are then blessed by performing various rituals using holy water, incense smoke, petals and rice grains.
18th December 9-11am – Breakfast with Santa
Indulge in a festive buffet with the classic favorites and live cooking stations. Children will be invited to take part in Christmas cookie decoration and pool games.
Rp100,000++/child including access to the children's pool and waterslides; Rp200,000++/adult. www.ayanaresort.com
24th December – Dark Moon - Tilem Sasih Kanem
The Balinese adhering to the Hindu Dharma religion will celebrate 'Tilem' in temple ceremonies, which are mostly held in every major temple and family shrines around the island of Bali. On this day Hindus make offerings to the Gods, placed on the ground at the entrance of each housing compound. The aim is to beg God's grace; so that one's dark thoughts are illuminated by Him.
24th December – Christmas Eve
This is a fun night to be had, either intimately over a family Christmas dinner at many of the hotels, restaurants, resorts and private villas all ready to serve up traditional turkey or a Balinese 'bebek' (duck). Or kick your heels up with your friends for a wild night of dancing and parties at all the bars and clubs along the southern coast. Bali is a wonderful choice to welcome in Christmas in the tropics.
25th December – Christmas Day
This is a national holiday and is celebrated across the island in all hotels, restaurants, bars and clubs with special festivities programs. All banks and government offices will be closed.
26th December – Boxing Day
This traditional day after Christmas is spent relaxing and being with family and friends with good food. Many establishments around the island will also be offering Boxing Day specials.
31st December – New Years Eve
This is a huge night on Bali, with crowds gathering in the popular spots, especially in Kuta along the beach, so please keep some traffic delays in mind. It is probably best to catch a cab. Everyone everywhere will be waiting for the midnight countdown into 2012, so wherever you choose to celebrate, it will be for sure, a night to remember. HAPPY NEW YEAR 2012.
Source: Baliplus.com
Tuesday, November 29, 2011
Thursday, November 24, 2011
Wednesday, November 16, 2011
Moment Tak Terlupakan - Lomba Foto
Lomba Foto “Moment Tak Terlupakan” Sanur Village Festival 2011 Yayasan Pembangunan Sanur (YPS) kembali menyelenggarakan Sanur Village Festival (SVF). Event ini adalah sebuah kegiatan yang diadakan setiap tahun, dengan tujuan memberikan kesempatan bagi komunitas masyarakat untuk menampilkan berbagai momen terbaik merek...a. Pada tahun 2011 ini, SVF secara resmi akan dilaksanakan tanggal 18-22 November 2011 di pantai Matahari Terbit, Sanur.Acara ini akan dikolaborasi dengan penyelenggaraan Pekan Flori Flora Nasional (PF2N) 2011. Berbagai macam kegiatan akan diselenggarakan selama 5 hari dari pagi hingga menjelang tengah malam. Seperti olah raga, hiburan, musik, kegiatan nelayan dan parade budaya hingga berbagai eksebisi kuliner.
Pada penyelenggaraan tahun ini juga ditambah event oleh PF2N berupa kegiatan pertanian, panen tanaman hortikultural, lomba gebogan, seminar dan lain sebagainya. Moment tersebut tak akan terlupakan, karena sudah dirancang dengan matang dan telah menjadi pengalaman penyelenggaraan ke enam hingga tahun ini. Karena itu SVF yang juga biasa disebut SanFest—kini dipusatkan pada area 9 hektar di Pantai Matahari Terbit, Sanur—kembali menyelenggarakan lomba foto, untuk memberi media ekspresi pada para fotografer mendapatkan pengalaman “outdoor photography” secara terukur.
Persyaratan Lomba Foto
1. Tema “Moment Tak Terlupakan” Sanur Village Festival 2011”
2. Lomba terbuka untuk penggemar fotografi, baik itu warga negara Indonesia atau warga negara asing.
3. Foto yang diperlombakan adalah foto-foto yang diambil dalam penyelenggaraan Sanur Village Festival 2011, baik di pantai Matahari Terbit, pantai di Hotel Bali Beach, Lapangan Golf Hotel Bali Beach, sepanjang jalan menuju venue saat parade dan kegiatan yang mengusung nama Sanur Village Festival.
4. Foto yang diperlombakan adalah foto-foto yang diambil dalam penyelenggaraan Pekan Flori Flora Nasional (PF2N), baik di pantai Matahari Terbit, maupun dimana pun, yang masih terkait dengan kegiatan resmi PF2N.
5. Foto yang dikirimkan tidak boleh mengandung unsur SARA, sadisme dan pornografi / nude.
6. Peserta tidak dipungut biaya.
7. Keikutsertaan peserta ditandai dengan “Like” di http://www.facebook.com/Sanurfestival
8. Peserta wajib mengupload paling sedikit 5 foto terkait moment pada SVF maupun PF2N.
9. Foto yang diupload tidak harus foto yang akan diikutkan dalam lomba.
10. Pada penyerahan foto, musti dicantumkan dalam selembar kertas, nama peserta yang digunakan di facebook, dan link yang bisa menunjukan bahwa sudah ada foto yang terupload di http://www.facebook.com/Sanurfestival .
11. Foto yang dilombakan adalah berwarna dengan kamera analog maupun digital.
12. Foto karya sendiri. Peserta dapat mengirim paling banyak 10 (sepuluh) karya foto.
13. Ukuran foto 10R atau 10RW disertai dengan copy original file format.JPG dalam kemasan CD dengan format nama file: Nama peserta_judul.jpg Pada keping CD juga diisi nama peserta dan nomor Hp.
14. Foto tidak dibingkai, dan atau tidak ditempel pada media apapun.
15. Data diri peserta ditulis pada selembar kertas yang ditempelkan pada bagian belakang foto dengan memuat informasi (wajib): a. Nama fotografer b. Nama di facebook c. Alamat lengkap d. Telepon/ Hp e. Judul foto
16. Jangan menulis info apapun di permukaan image foto.
17. Pastikan semua yang ditempel di belakang foto tidak menimbulkan goresan dan atau merusak foto.
18. Peserta diijinkan melakukan pengolahan digital sebatas pada penyuntingan (saturation & cropping), bukan penggabungan lebih dari satu file foto.
19. Karya foto dan CD foto yang akan diikutsertakan. Pada amplop ditulisi nama pengirim, alamat dan no telepon yang bisa dihubungi.
20. Semua foto dikirim ke panitia Sanur Village Festival: Jl. Danau Buyan III /2 Sanur (Perempatan McDonald Sanur, ke arah Barat menuju Denpasar) 80228. Telp : 0361-286987 (Kantor Yayasan Pembangunan Sanur). Batas akhir penerimaan foto hari Senin, tanggal 28 November 2011.
21. Pengumuman pemenang tanggal 30 November 2011 lewat jejaring sosial facebook dan twitter @sanurfestival. Pemenang akan dihubungi lewat telepon oleh pihak panitia SVF untuk pengambilan hadiah.
22. Para pemenang akan mendapat hadiah total Rp 11.000.000,- terbagi sebagai berikut: a. Juara 1 Rp 3.000.000,- + Piala + Piagam b. Juara 2 Rp 2.000.000,- + Piala + Piagam c. Juara 3 Rp 1.000.000,- + Piala + Piagam d. Juara harapan ada 10, @: Rp 500.000,- + Piagam
23. Panitia berhak sepenuhnya melakukan publikasi atas foto peserta hanya untuk kepentingan publikasi Sanur Village Festival tanpa perlu meminta ijin terlebih dahulu. Panitia akan menghubungi pemilik foto bila ada pihak ketiga yang ingin menggunakan foto tersebut untuk tujuan komersil, kesepakatan akan transaksi ada pada pemilik hak cipta foto bersangkutan.
24. Peserta yang sudah mengirimkan foto dianggap menyetujui semua persyaratan dalam lomba foto ini.
25. Keputusan Dewan Juri mutlak dan tidak dapat diganggu-gugat. Salam 17 November 2011 Ketua Panitia Lomba Foto Sanur Village Festival 2011 I Made Iwan Darmawan
Subscribe to:
Posts (Atom)




























